Saturday, August 31, 2019

KKNdah depe nama~

Hai dunia! Fani sepertinya sudah kembali menjadi dirinya yang biasanya. Akhirnya. Setelah berhari-hari aneh dan merasa asing, bertanya-tanya, "Ini aku bukan sih?" Aftermath KKN cukup parah mempengaruhi hidupku dua minggu belakangan. Syukurlah aku masih manusia karena masih sanggup beradaptasi, walau memakan banyak waktu. Bagaimanapun 50 hari memang bukan waktu yang singkat kan? Bukan hal yang terlalu aneh kalau aku kesulitan menyesuaikan diri setelah kembali ke 'peradaban'. Sampai-sampai aku terus menunda untuk menulis tentang kisah KKN-ku karena menunggu hati cukup kuat.


Semuanya terlalu indah dan 50 hari terasa begitu cepat berlalu karena mereka bertujuh; dari kiri belakang ada aku, Nita, Henny, Ely, dan Lala, depan dari kiri juga ada Arvin, Fadel, dan Ario.

Kesimpulan yang aku tarik dari tidak banyak obrolan dengan teman-teman yang juga baru menyelesaikan KKN: ngegap adalah kunci WKWKWKW... Pas mereka aku ceritain betapa ngegapnya aku dan teman-teman subunitku, mereka malah bilang, "Lebih seru kayak gitu Fan!" Hehe, puji Tuhan kalau begitu...

Sebenarnya aku sering merasa bersalah dengan gap yang terjadi ini tapi ya sudahlah, sudah berlalu, lagipula semua bahagia seolah tidak ada gap apa-apa haha...

Entah sampai kapan D'Pogandas akan tetap bersama, sejauh ini kami masih sedikit-sedikit berbagi kabar di grup WA dan wacana main masih menjadi wacana, tapi tak apa, apapun yang terjadi nantinya, mereka tetap satu bagian super indah dalam kehidupanku <3 Terima kasih sudah hadir dan mewarnai 50 hari KKN yang kukira tidak akan seindah itu guys! Sayang pol sama kalian :")

Tidak ada peran ibu-ayah atau sejenisnya di D'Pogandas, kami semua setaraf: teman -- teman yang entah bagaimana cocok saja kepribadian, selera humor, sampai selera julidnya WKWKWK. Tidak ada yang terlalu menggurui karena jauh lebih dewasa dan sebaliknya tidak ada juga yang terlalu manja karena belum dewasa. Kami benar-benar seirama dan setara, saling jaga dan bercanda.


Salah satu slogan kami adalah, "Emangnya kita ngapa-ngapain harus berdelapan ya?", sebuah pertanyaan yang aku lontarkan karena heran kenapa kami ke mana-mana dan melakukan apa-apa hampir selalu harus bersama-sama seperti serombongan bebek. Kalau ga salah pas itu kami ada yang mau ngeprint dan bikin materi di laptop, gensetan di rumahku, eh semuanya ikut, yang ga ada kepentingan juga ikut WKWKWKWK... aku yang lagi capek abis pulang dari Abason auto nyeletuk, "Emangnya kita ngapa-ngapain haru berdelapan ya?" karena heran liat Arvin yang sama-sama dari Abason keliatan capek tapi bukannya tidur di Papa Kadus malah ngintil ke Papa Natan. Terus disahut sama Lala, "IYA." WKWKWKW dasar kita...

Setiap ada kejadian apapun yang berbahaya kami semua auto panik, bukan memikirkan diri-sendiri tapi keselamatan satu sama lain. Yang paling aku ingat adalah saat Fadel gatel sampe makannya cepet banget dan udah keliatan ga nyaman gitu, terus abis makan dia langsung ke kamar, kami cepet-cepet abisin makan sambil teriakin nanya dia kenapa, selesai makan kami buru-buru melihat keadaan Fadel di kamar. Lala ngecek kulitnya, Ario nyuruh Henny ambil CTM, Nita sama Ely lari ke rumah ambil caladin, aku doa di depan pintu. LOL. Arvin seperti biasa lagi dinas ke Salakan.

Lagu-lagu yang sering kita nyanyikan

Terima kasih kepada ukulele pink coral milik Nita yang sudah menceriakan hari-hari kita di Poganda. Dari pagi sampai malam, kita isi jeda-jeda waktu kosong dengan bersenandung riang. Beberapa lagu paling mainstream yaitu:

- Waktu Yang Salah (favorit Totok)
- Cinta Beda Agama
- Kangen
- Dia
- Dua lagunya Virgoun
- Manusia Bodoh
- Can't Help Falling in Love
- Perfect

Kita sempat ingin mengadakan tribut untuk band-band tertentu tapi kemudian gagal karena ingat-ingat lupa dengan lagu-lagunya WKWKWKWK... Misalnya Peterpan, Radja, Kangen Band, dan ST12. Nggilani emang selera musik kita *kecuali Ario.


Senam

Terima kasih kepada Totok alias Henny yang sudah mengadakan program senam sehat setiap Jumat. Berkat program inilah kita semua teracuni demam Kaka Enda dan Nona Peling. Dua senam legend yang tak akan terlupa! Setiap Jumat aku tak pernah merasa kekurangan serotonin wkwkwk...

Momen yang nggak akan terlupa adalah pas malam perpisahan di Poganda, setelah lelah berdero sampai sekitar jam 2 lewat, Papa Hasran (our infrastruktur senam HAHA) sampe udah ganti kaos, kami mengakhiri kegiatan joget hari itu dengan ONE LAST KAKA ENDA X NONA PELING. 

Anjir sih... pas itu aku baru aja duduk setelah capek dero ronde kesekian, diputer musik Kaka Enda, aku auto bangkit dan gabung ke barisan. Begitu masuk ke lirik langsung nangis! Senam sambil nangis dan nangisnya tuh yang sakit dari hati gitu lho. It was one of my best moment, really! Karena aku pribadi emang suka banget sama dua senam ini WKWKWKKW... bikin bahagia woy T_T *tau sendiri lah, aku susah bahagia. Papa Hasran juga keliatan emosional banget huhu...

Sampe di Jogja aku udah dua kali senam sendiri di kamar HAHA

Oiya apalagi liriknya Nona Peling ter-FAV
Sa so berlayar jauh dari Taliabu~ mau bilang cinta tapi sa pe hati ragu 
EA BANGET SIH DASAR LIRIK...


Alang-alang! 

It was one of our most hectic day ever: couo-couo pergi ke Leme-leme buat pasang baliho (yang ada foto artis Bangkepnya tu lho) dan ciui-ciui sibuk memangkas alang-alang dari deket Buka Layo (ini barusan mikir keras lupa nama tempatnya). Seperti biasa aku sebagai ceue sok kuat tentu saja tidak mau memakai manset maupun latex, sehingga sekujur tangan-kaki-bahkan muka dan leher penuh baretan yang pedis, loro cuk. Terus kita sampe malem berjibaku berdelapan (+ Papa Yongki our hero, Papa Mail our craftsman) bikin huruf-huruf buat gapura. Teras rumah Kadus udah penuh alang-alang, sampe masuk-masuk ke rumah dan kamar couo. Lelah, akhirnya kami berdelapan berakhir di atas springbed biru penuh peer; cosplay alang-alang, begitu istilah kerennya WKKWKW... Literally delapan manusia di atas kasur yang sama. Dasar kita.


Triple T (Trip to Tatendeng) 

Perjalanan ke Tatendeng bakal jadi salah satu yang paling nggak terlupa!!! Pagi, aku sama Fadel ngurusin takraw di Luk, lainnya ada cek kesehatan di baldus. Pertandingan takraw pagi itu penuh dengan drama dan perselisihan *lol, kemudian usai sekitar jam 11. Cepat-cepat kami berdua balik ke Poganda karena udah ditunggu Papa Kadus. Sampai di 'rumah', sudah ada Papa-Mama-Parel dan Arvin (yang nungguin Lala). Kami berangkat duluan karena so ditunggu sejak pagi di Tatendeng. Mbonceng Fadel di jalanan yang asing dan berkelok dan ada yang lagi dibenerin adalah sebuah kengerian di siang hari -_- but at least we got to talk about life, a little, good to hear some of his stories. 

Yang paling berharga dari kunjungan ke Tatendeng adalah ketemu dan berkenalan dengan Pak Maleso! Beliau ini katanya adalah ensiklopedia Banggai Kepulauan, he knows everything! Seru banget dengerin Pak Maleso cerita ngalor ngidul sampe ngalor lagi tentang sejarah Bangkep <333 Ga cuma sejarah, beliau juga adalah seorang pemerhati lingkungan khususnya burung-burung dan satwa yang ada di Gunung Kokolomboi.

Senang juga akhirnya kami punya foto berdelapan yang cukup proper :D

dikagetin lalu terkejut mari lanjut...

PPK - Para Pemburu Kepompong 

CPC - Calon Plang Cebol 

Anti Misogynist Misogynist Club!

FSS - Festival Sea Sea

BKM - Budak Kelapa Muda

SBT - Senja Bersama Terakhir 

PRHI - Pilu Rasanya Hati Ini 

Ini apaan sih kenapa penulisnya nggak niat!?  

Udahan aja lah yang nulis kalau ga niat! 

Oke bye~ 

PDSMT - Pulang Dengan Semua Moda Transportasi 


OIYA! After Movie Ala-ala(kadarnya)



❤❤❤❤❤❤❤❤

Saturday, June 8, 2019

The End of Normal Life


I'm having my probably last ever holiday as a normal student (?) and because it is a normal holiday (and the last one, especially) I spend it as normal as possible. I spend it the way I normally spend my holiday:

Sleep late (not because I want to but because I feel bad to sleep earlier when I...) - wake up EXTRA late (can't wake up unless someone scream about FOOD on my door) - being in front of the screens 24/7 (almost literally, so far I'm very close to actually doing it) - eat & drink unhealthy-ly (chips, french fries, fried-everything, chocolates, extra spicy sambals, coffee, sweet tea) - neglecting my responsibilities (final exam take homes, meeting reports, final papers... life... i don't care)

But of course, deep down inside . . . . I'm . . h a u n t e d

"You're going to screw this up if you procrastinate."

"Oh gosh, look how future-less you are, lazy bstrd."

"Lazy pig!"



Anyway... that doesn't motivate me at all. Idk~ idc :) If I don't want to do anything then I really do nothing, no matter how fussy it is inside my brain.

I just have zero willingness to live my life the way it should be I guess... because, what for?

Sunday, June 2, 2019

Saat Kita Tak Terlahir Untuk Menjadi Yang Kita Inginkan

(Kita Butuh Cara Untuk Tetap Bersemangat Menggapai Yang Kita Inginkan Itu)

*atau sekadar untuk bertahan hidup

Sebagai fans K-pop semenjak 12 tahun yang lalu (iya, sudah selama itu, patokannya adalah; sudah suka K-pop sejak sebelum SHINee debut yaitu pada 2008), aku sudah banyak menyukai boyband, girlband, band, hingga penyanyi solo dan jenis-jenis penyanyi lain dari negeri ginseng. Berbagai fandom sudah kumasuki secara tidak resmi, multifandom garis keras! Taraf ke-fangirl-an sudah mencapai level: bukan cuma suka tetapi mengobservasi lebih dalam. Sudah jarang mendalami satu grup sampai sebegitu bucin, penilaian juga bukan lagi sekadar bakat dan visual karena lagipula
Some idols were born to be idols... some other idols were born to work hard to be idols. 
Beberapa idols memang terlahir untuk jadi idols. Itu yang aku sadari akhir-akhir ini. Entah karena bakat, visual maupun lainnya. Mereka adalah orang-orang yang membuat kita (atau setidaknya aku) berpikir, "Ya sayang sih kalau orang seperti ini nggak jadi idol." Absurd ya? Tapi begitulah adanya. Sejujurnya enggan mengakui bahwa Mnet dengan Produce X 101 nya lah yang membuatku sadar akan hal ini. Mnet dan segala dramanya itu memberiku pencerahan?! Ah, gengsi sekali kalau harus mengakuinya! Namun aku mengakuinya...




Kim Yohan, peringkat 1 Produce X 101 saat ini. Dia meninggalkan karir taekwondo dan perkuliahannya untuk menjadi idol, cita-citanya yang sesungguhnya. And when I saw him, damn... he's really born with it, he's born to be an idol, no doubt! Yohan punya karisma yang bisa membuat orang-orang menyukai dirinya, dan itu adalah inti dari idola: disukai orang-orang. Dia tahu cara membuat orang menyukai dirinya, perpaduan dari bakatnya dan memang natural saja; dia mudah disukai. 


Kim Wooseok a.k.a Wooshin UP10TION. Sini berantem sama aku yang bilang dia nggak pantas debut lewat PX101 karena sudah debut di UP10TION. Di Wannaone saja ada Hwang Minhyun NU'EST dan Ha Sungwoon HOTSHOT. Sah-sah saja besok ada member UP10TION, Myteen, dan Victon. Itu namanya KEMAJUAN, dari dua jadi tiga! 

Wooseok dan visualnya membuatku sadar kalau ganteng juga adalah bakat. Kenapa? Karena dia sangat tahu dan memahami ketampanannya. Wooseok bukan sekadar ganteng, dia tahu sudut-sudut dan sisi-sisi wajah bagian mana yang harus dia tonjolkan di depan kamera. Tidak semua orang berparas tampan/cantik bisa melakukan itu. Dengan kegantengan yang seperti itu aku rasa Wooseok memang terlahir untuk menjadi idol. Buat apa Tuhan mendesain muka setampan itu kalau bukan untuk diidolakan? 



Kim Kookheon is the third 'Kim' I want to talk about. If Yohan was born with idol charm, Wooseok with idol visual, then Kookheon was born with idol talents. With Yohan I'll say, "With this kinda charm it doesn't make sense if he doesn't be an idol because EVERYONE will FALL IN LOVE with him INSTANTLY!" With Wooseok I'll say, "With his face and visual that could save the nation, he must be an idol! No excuse needed, that FACE must be SHOWN TO THE WORLD!" Then with Kookheon I say, "With his MINDBLOWING TALENTS in singing and dancing!!! (His singing is approved by Lee Hongki and dancing by the dance trainer) it would be such a BIG WASTE if he doesn't be an idol!"

*Sorry for the sudden switch to English

Ya, beberapa orang memang terlahir untuk menjadi idols and it's sad that not every one of them get the chance to shine as bright. Yang membuatku selalu tertarik seolah ada gravitasi dari acara-acara semacam Produce 101 adalah 'mimpi dan perjuangan'. Aku selalu suka itu karena aku tidak benar-benar memiliki keduanya. Penggemar K-pop lain mungkin suka K-pop karena musiknya, visual idolanya, kelucuannya, atau tariannya. Aku adalah salah satu yang benar-benar bertahan untuk semangatnya. K-pop memberiku gambaran tentang kerja keras dan hasil. Mendengarkan lagu K-pop membuatku berpikir tentang perjuangan yang ada di balik lagu itu; bagaimana mereka berlatih bertahun-tahun sampai bisa bernyanyi dengan baik, keringat yang bercucuran untuk menyamakan gerakan tari, malam-malam tanpa istirahat di ruang latihan... 

Meanwhile... 
 some other idols were born to work hard to be idols. 
and some of them made it... 

because life is about 'chance' 

Aku mempercayai bahwa semua trainee punya hak yang sama untuk debut dan sukses, tetapi tak semua dari mereka memiliki kesempatan yang sama. Fakta yang menyedihkan bahwa tidak semua yang ingin maupun sudah menjadi idol masuk dalam kategori "born to be an idol".  Lebih sedih lagi; kesempatan datang pada orang-orang yang mendapat kesempatan, tidak selalu pada orang yang bekerja keras. Kita --bukan hanya idol-- terkadang memang tidak terlahir untuk menjadi yang kita inginkan. Some people will get it easier, (bukan easy ya, tapi easier) bisa jadi karena kesempatan atau karena mereka  born with it. Sejauh aku mempelajari kehidupan; seperti itulah kenyataannya. Sukses bukan perpaduan kerja keras dan bakat tetapi kesempatan.

Oleh karena itulah aku butuh K-pop, untuk terus belajar tentang perjuangan. Semua idols dan calon idols sesungguhnya bekerja sama kerasnya; berusaha sekuat tenaga untuk bisa berdiri di atas panggung :) mereka lah alasanku bertahan menjadi fangirl setelah sekian lama~  bahkan terkadang alasanku bertahan melanjutkan hidup dan terus berjuang, terus mencoba, terus berusaha, terus melakukan yang terbaik... 

Saturday, May 18, 2019

Masih Ada Biji Bunga Matahari

Setelah lagi-lagi harus menelusuri terowongan gelap yang panjang selama kurang lebih dua bulan, aku akhirnya sampai di ujung ketika cahaya mulai terlihat sedikit demi sedikit.

Photo by Jake Oates on Unsplash
Kemudian aku berpikir, mungkin di masa-masa kelam itu biji bunga matahari hanya sedang berjuang untuk tumbuh di dalam tanah yang gelap. Mungkin air mataku menjadi air yang menyiraminya. Lalu bunganya akan mekar. Bunga matahari itu memampukanku melihat dunia dengan cerah ceria, mungkin untuk beberapa lama sampai ia layu, mengering, dan biji-bijinya perlu berdiam dalam gelap lagi. Terus berputar seperti itu. Tak apa, selama masih ada biji bunga matahari, aku tahu aku bisa bertahan dan berharap, Tuhan akan memberinya pertumbuhan. Tuhan akan memberiku kekuatan dan penghiburan.

Photo by Kyaw Tun on Unsplash
Jadi jangan menyerah, kawan. Jika saat ini semuanya terasa begitu berat dan kamu kesulitan melihat secercah cahaya, ingatlah, biji bunga mataharimu sedang berusaha keras menerobos gelapnya tanah untuk memberimu setangkai, bukan, bertangkai-tangkai bunga matahari kuning yang cerah dan bahagia. Bersabarlah, bertahanlah, kamu tidak sendirian. Ada yang sedang berjuang bersamamu, masih ada biji bunga matahari.


Monday, May 6, 2019

1/3 Akhir


Mei, 2019

"Tiba-tiba... hal yang sebelumnya begitu berharga menjadi jauh berjarak dan yang dulunya bukan apa-apa, menemukan jalan menjadi dekat bermakna."

Asrama, yang selalu aku banggakan dan sayangi, sekarang kerap membuatku merasa asing dan bertanya-tanya, dan ini bukan pertama kali... Aku kira mereka sudah paham dan mengerti, ternyata aku masih saja kebingungan, "Apa salah dan dosaku sayang?"

Unit Kerohanian Kristen UGM, yang dulunya aku begitu resisten terhadapnya, sampai-sampai tidak pernah mau terlibat di kepanitiaan atau apapun itu, sekarang mulai terasa seperti rumah yang hangat dan nyaman.

Semester 6 membuat banyak hal di kelas seolah harus lebih serius dan tegang. Perpisahan yang seharusnya masih 'nanti' sudah terasa dan bahkan terjadi saat ini. Dingin, asumtif, egois, dan individualis.




KKN hadir di waktu yang tepat. Syukurlah walau semula ngotot ingin KKN di Magelang atau Temanggung saja, eh malah mencemplungkan diri ke Banggai Kepulauan. Ke-random-an yang membawa berkat. Teman-teman baru yang baik, cerdas, solutif, inspiratif, menyenangkan, dan menuju semakin solid. Aku selalu senang menjadi penyeimbang.

Keseimbangan lain seperti,

Ada mata kuliah seminar yang membuat gila tapi ada sastra perjalanan yang mewaraskan...

Ada dosen seperti si tukang makan bayam tapi juga ada Bu Rini yang seimbang cantik paras dan hatinya...

Related image

Absurd, kala merasa telah mendewasa, tak sadar kita menjilat ludah sendiri; yang berujar akan terus menjaga kanak-kanak dalam pribadi. Bahwa persahabatan dan cinta adalah yang paling berharga. Uang, kesombongan, dan nikmat dunia lainnya adalah sia-sia. Terima kasih Tuhan (dan Pangeran Cilik).

Pikiran selalu bekerja berkali lipat lebih sibuk setelah banyak bertemu manusia lain. Quora dan rapat-rapat. Ruang-ruang bertemu ide-ide yang berseliweran. Belajar lagi dan lagi tentang empati dan peduli. Lebih baik mengalah daripada memenangkan emosi.

Sedikit lebih berani menantang adiksi. Menyadari candu itu telah mencuri demikian banyak damai dalam hati. Menggerogoti pilar-pilar percaya diri. Imposter syndrome menjadi-jadi. Harga diri terkikis ditelan bumi.

1/3 akhir masa kuliah. Langkah sudah begitu jauh menjelajah, hanya bisa berterimakasih pada Allah. Untuk segala takut dan ragu yang terus Ia buktikan salah. Semua timing yang ternyata selalu tepat, membuatku berani untuk percaya; KKN-magang-skripsi juga Ia pegang setiap prosesnya.

Dua hal terakhir: menjangkau jiwa-jiwa dan pasangan hidup. Tetaplah berdoa. 

Monday, April 29, 2019

[ Can't Unmiss You ]


Aku tidak sedang merindukanmu

Aku tidak sedang ingin kamu mengajak kita bertemu

Aku tidak sedang ingin mengharap namamu muncul di kotak pesanku

Aku tidak sedang melatih kekuatan hatiku

Aku tidak sedang merindukanmu

.
.
.

Aku sedang berusaha keras tidak menunggumu

Aku sedang berperang mati-matian untuk tidak memikirkanmu

Aku sedang berjuang menghapus namamu dari bagian memoriku

Aku sedang mencoba... meniadakanmu dari daftar doaku

Aku sedang berusaha keras tidak menunggumu

.
.
.

Lorong itu masih saja gelap setiap kali aku melihatnya

Tidak ada tanda-tanda seseorang akan datang membawa pelita

Lalu menjemputku dari terlalu banyak bermimpi

Menawarkan kenyataan dan realita yang lebih menarik

Tidak ada yang seperti itu, belum ada, masih jauh sekali

.
.
.

Photo by Steve Halama on Unsplash

Lalu apa sih gunanya kita sama-sama swipe right kalau akhirnya sama-sama diam?

Tinder oh tinder... bukan sesuatu yang harusnya dibawa ke hati karena cuma dimainkan dengan jari!


Sunday, April 28, 2019


Bagaimana sih caranya tidak sedih ketika akhirya seorang diri?

Biasa tertawa dan melakukan hal-hal aneh saat bersama orang lain... tersenyum dan melakukan kebaikan tapi

malam tiba dan bahkan terkadang belum tiba, waktu kesendirian itu tiba dan... sulit sekali untuk tidak memikirkan hal-hal negatif.

Photo by Annie Spratt on Unsplash
 
Berapa banyak orang yang sudah kamu tipu dengan berpura-pura baik hari ini?

Pada akhirnya mereka akan tahu seberapa buruknya kamu dan mereka akan membencimu...

Kamu tidak diharapkan ada, kehadiranmu tidak signifikan... you'll never feel belong because in fact, they just don't accept you