Monday, April 10, 2017

Tentang Aku Menulis

Hai dunia! Ternyata belum ada post berfaedah dalam waktu yang lama ya... Maafkan aku, diriku sendiri.

Menulis. Bukankah menulis itu seperti senasib dengan membaca atau mendengarkan musik? Menjadi jawaban asal banyak orang ketika ditanya, "Apa hobimu?" Aku termasuk salah satu dari banyak orang itu, aku sering menjadikan menulis sebagai hobiku. Pertanyaannya, benarkah aku hobi menulis? Sejauh mana aku menekuni hobi itu? Mengapa aku suka menulis? Seperti apa tulisanku?

Sepertinya hobi ini ku mulai sejak menonton Buku Harian Nayla, jadi sekitar kelas 3 SD, kurang lebih 10 atau 11 tahun yang lalu. Aku masih menyimpan diary pertamaku yang berisi kejadian-kejadian di sekolah dan rumah, cerita-cerita tentang temanku yang mengesalkan atau saudara sepupuku yang membeli suatu hal baru. Aku juga menuliskan tentang Buku Harian Nayla haha... Di diary keduaku, aku mulai mengenal cinta, cinta ala anak SD tentunya haha... yang semata karena kegantengan atau kepintaran seorang cowok. Berlanjut di diary ketiga, satu-satunya alasanku memulai diary itu adalah rasa sukaku pada seseorang sehingga begitu orang itu 'pergi', aku kehilangan alasanku menulis. Ha ha sedih amat yak. Malu dah yang nulis. Diary keempat dan terakhirku adalah bagian dari tugas Bahasa Inggris saat SMP kelas 2. Kami harus menulis diary dalam Bahasa Inggris dan mengumpulkannya setiap akhir pekan. Diary itu, sangat berkesan, karena menjadi awal kedekatanku dengan Bu Guru Bahasa Inggrisku, sampai sekarang beliau masih menjadi tempat curhat yang baik untukku. And you know what? It was still about the same person. Jadi sedih kan.

Jadi, 'ya', aku memang hobi menulis, bahkan di biodata yang kutulis saat kelas 3 pun aku menempatkan 'menulis' sebagai hobi terutamaku. Aku jadi ingat cerpen-cerpen yang kutulis di halaman binderku dan naskah-naskah siaran radio di notes-notes kecilku. Bagaimana ya, awal mulanya aku menulis? Mengapa aku lebih memilih untuk menulis dan bukan berbicara? Mungkin ada kaitannya dengan pribadiku yang sulit bergaul (dulu pernah sangat parah, aku tidak bisa melupakan nilai 'C' dalam rapor kepribadian bagian 'pergaulan' ku saat kelas 2 SD). Selain menulis, aku juga menuangkan celotehanku dalam hobi (lebih seperti kebiasaan, sih) lain yaitu berbicara dengan diri-sendiri. Kedua kegiatan ini sudah ku lakukan sejak dulu sekali, mungkin sekitar kelas 2 SD, bisa jadi sebelumnya.

Lantas, sejauh mana aku menekuni hobi menulis ini? Tidak jauh, jujur saja. Tulisanku masih sesederhana naskah siaran radio yang ku tulis belasan tahun lalu. Ha. Aku tidak pernah serius mempelajari cara-cara menulis yang baik dan benar. Sepertinya berniat pun belum pernah. Aku bahkan sama sekali tidak berambisi menerbitkan buku seperti kebanyakan orang yang juga hobi menulis. Satu-satunya ambisiku mungkin hanyalah menjadi blogger terkenal dan untuk itu pun aku tidak cukup ambisius. Menilik tulisan-tulisan di blog-blog ku, aku sering (sangat sering) berujar, "tulisan random ini". Ya, aku nyatanya terlampau malas untuk menyeriusi perihal kepenulisan ini sehingga aku lebih memilih melabeli tulisanku sebagai 'random' sebagai 'excuse' atas ketidakniatanku. Maka pertanyaan "Seperti apa tulisanku?" terjawab juga; tulisanku kacau, balau.

Kalau aku tidak mau serius tentang menulis, lalu sebenarnya karena dan untuk apa aku menyukainya? Mengapa aku menulis? Sebagian sudah terjawab di atas; karena aku tidak memiliki banyak teman untuk berbagi unek-unek maka aku menuangkannya dalam tulisan. Kadangkala aku juga setuju dengan pendapat seseorang bahwa hobi menulis bagi para cewek adalah sesuatu yang 'hormonal', dalam masa pubertas cewek begitu emosional dan sensitif, inspirasi untuk menulis pun melimpah ruah. Begitu hormon sudah lebih terkendali, dorongan menulis perlahan berkurang. Bukti nyata ialah diary-diary ku yang penuh dengan cerita cinta monyet masa SMP (masa awal puber) dan sekarang aku tidak punya lagi kisah-kisah itu. Alasan lain aku (tetap) menulis: someone once told me I'm talented. Dan mungkin jika aku berhenti menulis aku akan kehilangan hal itu, kehilangan hal itu berarti aku semakin tidak tahu lagi apa bakatku, dan aku tidak ingin itu terjadi. Aku hanya ingin memuaskan diriku sendiri dengan pikiran "aku berbakat menulis", masuk akal saja hal itu terjadi. Makanya aku selalu sok-sokan menulis... hanya karena aku tidak ingin kehilangan fantasi itu, hanya untuk menghindarkan diri dari bayang-bayang 'tidak berbakat apapun'.

Tapi apa benar seperti itu? Apakah aku semenyedihkan itu? Jadi alasanku menulis adalah self pity? Hah, betapa tolol dan konyolnya! Kemudian, tujuan tulisan ini dibuat? Mencari legitimasi dari orang lain? Nggak sih, aku hanya ... hanya menulis.

Begitulah, nampak-nampaknya menulis tanpa alasan adalah yang terbaik. Melakukan banyak hal lain tanpa memusingkan apa alasanmu melakukannya terkadang adalah yang terbaik. Yang tanpa alasan itu, dibelokkan saja sedikit menjadi untuk Tuhan. Aku menulis karena Tuhan memberiku kemampuan untuk menulis jadi ya aku menulis untuk-Nya, sebagai ucapan syukur bahwa setidak-tidaknya aku diizinkan untuk bisa merangkai kata.





Kenapa ending tulisan selalu melenceng. Ini random juga? Ketidakniatan juga ya rupanya Fan... HAHAHAHAAHAHAHAHAMBUH