Berhenti bersikap seolah kamu yang paling menderita.
"Tapi... strata sosial itu ternyata memang ada ya?"
Iya, iya ada! Ketidaksetaraan itu ada, bahkan ada indeksnya! Disparitas itu bagian dari realita...
"Pasti selama ini keberadaanku mengganggu sekali ya?"
Sudahlah...
"Pasti mereka sudah banyak menahan diri untuk tidak membuatku merasa sangat berbeda ya?"
Iya, mereka sebaik itu...
"Lalu?"
Mungkin mereka lelah?
"Aku memang setidak seru itu ya?"
Entahlah...
"Sepertinya iya, makanya aku tidak pernah punya banyak teman."
Sudahlah...
"Iya kan? Aku banyak mengeluh, tidak bisa bercanda, tidak tahu cara bersenang-senang..."
Mengeluhmu itu rasional kok dan kamu melakukannya bukan karena tidak bisa bersyukur, hanya untuk melepas stres saja kan? Kemudian kamu bukannya tidak bisa bercanda, hanya saja kamu tertawa untuk hal-hal yang berbeda dengan mayoritas orang, begitu juga caramu bersenang-senang... kamu punya caramu sendiri dan, yah, kebetulan itu (lagi-lagi) tidak sama dengan mereka.
"Tapi sama saja kan? Itu berarti... aku memang tidak cocok dijadikan kawan."
...
"Aku egois kan? Harusnya aku lebih banyak berpura-pura bahagia dan memendam keluhanku. Harusnya aku mengalah dan mencoba menertawakan yang seisi dunia tertawakan... Bersenang-senang dengan cara orang-orang normal mencari kesenangan..."
Kamu mau hidup seperti itu hanya demi orang lain menyukaimu?
terima kasih sudah mengajarkan tentang perpisahan.
Selamat tinggal
Semoga aku akan segera baik-baik saja karena aku tahu kalian baik-baik saja
Aku tahu banyak hal menyenangkan sudah terjadi tidak bersamaku dan itu pasti jauh lebih baik karena ketiadaanku, kerjaku memang hanya merusak good vibes...
Aku tahu duniamu tidak berputar di sekitarku dan bahkan mungkin tidak akan pernah saling terkait lagi, atau setidaknya tidak akan seberpengaruh itu lagi...
... Maaf karena aku memang seburuk itu. Maaf sudah banyak membuang waktumu. Maaf."
.
.
.
"What
hurts the most is being so close, having so much to say and watching
you walk away... never knowing what could have been... and not seeing
that loving you is what I was trying to do"
Mengirim pesan di Line lalu berharap tak akan dijawab, rasanya ingin mematikan saja notifikasi.
Ada hari raya tapi tidak memperbaharui Instagram story.
Kotak DM Instagram menunjukkan sejumlah angka yang aku harap tiada.
Membiarkan ponsel kehabisan daya lalu meninggalkannya mati begitu saja.
Aku harap setahun yang lalu tidak kecopetan ponsel di dalam bus untuk kedua kali dalam hidup. Seandainya saja itu tidak terjadi, sekarang akan jadi waktu yang tepat untuk membeli yang baru. Alih-alih berkutat dengan ponsel berusia satu tahun yang sialnya terguyur terlalu banyak air hujan satu bulan yang lalu. Aku benci diri-sendiri, sungguh. Untuk ponsel yang tidak berfungsi seperti seharusnya padahal belum berumur panjang. Kenapa sih aku tidak mampu menjaga barang-barangku? Seolah punya banyak uang saja.
Aku lupa sudah berapa kali berucap, "Kamu bakal baik-baik saja," dalam sehari ini, padahal ini baru jam 12 siang. Ketakutanku membuatku tidak bisa melakukan apa-apa dan semakin membenci diri-sendiri. Seandainya saja aku bisa mendiamkan rasa takut itu dan tetap melakukan apa yang harus dilakukan, aku akan lebih bahagia.
Aku terus berpikir, "Mungkin aku harus mencoba curhat dengan psikiater," tapi kemudian sadar butuh banyak uang untuk itu dan sekarang saja aku sudah sangat tertekan memikirkan biaya KKN. Menyebalkan sekali perasaan tidak berguna ini. Pasti menyenangkan memiliki pola berpikir yang lebih sederhana atau malah tidak banyak berpikir sama sekali.
Kamu tidak gila, hanya terlalu banyak berpikir. Kamu tidak depresi, hanya malas dan kurang beriman . Kamu tidak punya gangguan kecemasan, hanya tidak punya kontrol diri. Kamu sehat-sehat saja, baik fisik maupun psikismu. Berhentilah mencari-cari alasan untuk ketidak-kompeten-an dan ketidak-profesional-anmu. Tidak ada alasan khusus, kamu hanya kurang berusaha.
. . .
. . .
Aku berharap tahu alasan orang-orang ingin berjuang untuk hidup mereka. Bagaimana bisa? Apa yang mendorong mereka melakukannya? Apakah mereka tidak punya pemikiran tentang kesia-siaan? Apakah mereka tidak punya trauma kegagalan dan penolakan? Apakah mereka selalu berhasil, merasa baik tentang dirinya sendiri, dan yakin akan diterima orang lain? Apakah usaha belum pernah mengkhianati mereka dengan hasil yang buruk? Mengapa mereka begitu yakin? Mengapa begitu cerah dan optimis seolah-olah semesta memang selalu berkonspirasi membantu padahal tidak kan? Tolong jelaskan padaku semuanya... Karena aku tidak memahaminya. Bagiku semua percuma dan sia-sia saja. Untuk apa berusaha keras? Tidak ada yang menjamin kamu akan sukses. Untuk apa berjuang mati-matian? Seringkali orang-orang hanya beruntung karena serangkaian masa lalu dan latar belakang yang sudah bagus dari sononya. Buat apa berharap, optimis, dan mempersiapkan masa depan? Kan tidak ada kepastian semua bakal berjalan sesuai dengan keinginan kita jadi lebih baik hidup tanpa mengharapkan apa-apa. Putus asa itu bukan kesalahan, itu kondisi; bahwa kita tidak punya kuasa atas apa yang terjadi, maka tidak ada gunanya melakukan apapun. Bukankah begitu?
Ternyata saya masih sama: merasa sangat tidak nyaman ketika berbohong. Syukurlah, setidaknya saya masih boleh berucap bangga, "Saya sering sombong sih tapi saya jujur."
Jadi marilah kita akhiri skenario kebohongan ini: Fani masih jomblo guys, setelah hampir 21 tahun!!! Fani belum ketemu jodoh, masih disayang-sayang sama Tuhan Yesus seorang 😂 Snapgram yang menggambarkan seolah-olah Fani pacaran itu hanyalah H A L U !
Maka dengan ini saya nyatakan bahwa Stephanie Gracia Suryani...
dan beberapa teman terkasih saya terverifikasi tertipu!✅
LATAR BELAKANG
Sebagai kaum tuna asmara yang hatinya terlunta-lunta sekian lamanya, sering timbul rasa iri-dengki-benci-tapi-rindu terhadap para manusia penyandang status taken. Bagaimana tidak? Kemesraan diumbar sana-sini entah melalui media sosial atau dengan seenaknya berlalu lalang di sekitar saya. Kenapa sih mereka ini sungguh tidak peka? Namun yang barusan saya ketik itu sesungguhnya bukan latar belakang utama skenario ini dimulai. Inti dari inti, core of the core dari jomblo yang lebih dari jomblo lainnya ini melakukan penipuan publik tak lain ialah: ISENG BELAKA :")
Selasa, 9 April 2019 . Siang hari di Fisipmart bersama kawan belajar bareng untuk UTS sore.
🙆 : Saya
😌 : Teman saya
🙆 : (membaca beberapa patah kata dari materi UTS tetapi kemalasan melanda dengan dahsyatnya kemudian tiba-tiba muncullah ide random di dalam otak)
"Was jadi aku mau upload snapgram seolah-olah punya pacar gitu ah, iseng. Jadi tuh sempet ada tren gitu di kalangan Kpopers."
😌 : "Eh mana lihat-lihat!"
🙆 : (Menunjukkan 'bahan' yang saya temukan di Pinterest)
"Terus nanti aku kasih caption 'akhirnya ada yang nemenin revisian' sama kasih lokasi itu biar meyakinkan."
😌 : "Aku juga mau dong..."
🙆 : "Kenapa ya di kala dua jam menuju UTS kita malah begini..."
//// begitulah toxic nya pergaulan saya ha ha ha ha
RUMUSAN MASALAH
Masalahnya adalah kenapa sih saya kurang kerjaan banget? :")
TUJUAN
Ingin menipu
Enggak lho, sungguh sesungguhnya tidak ada niatan membohongi siapapun. Saya malah berpikiran sangat positif, "Ah teman-teman saya kan cerdas dan berbudaya mana mungkin ketipu. Mereka palingan udah ngerti betapa halunya saya."
Terus tujuannya apa? Nggak ada, cuma iseng, murni iseng... dan kalau ngomongin nipu: Come on, we shouldn't trust Instagram that much guys~
Tidak ada tinjauan pustaka dan landasan teori, lompat ke...
METODOLOGI
1. Cari foto di Pinterest (atau manapun seperti Google/Tumblr/...)
Pro tips: pakai kata kunci "boyfriend material EXO/BTS/NCT/any boygroup"; "Kpop boyfriend material"; "Kpop boyfriend snapchat", dan sejenisnya. Nggak susah mendapatkan gambar yang diinginkan karena hal seperti ini memang banyak dilakukan para kaum seperhaluan Kpopers.
Contoh hasil pencarian bahan kehaluan
2. Edat edit edut edet edot
Tenang, tidak perlu skill mumpuni dalam bidang editing. Cukup dengan aplikasi sederhana atau bahkan tanpa aplikasi tambahan, cukup langsung di Snapgram ae sudah bisyaaaa
3. Upload
4. Tunggu reaksi netijeng :")
Apa sih ya abis Metodologi? Ya pokoknya ya guys INI HASIL KESIENGANNYA:
Ini Snapgram pertama (1 reaksi dari Kakak asrama)
Snapgram ke-2 ada satu reaksi juga dari sahabat sejak SMA
ke-3 juga 1 reaksi (ini temenku yang super cerdas pun kemakan)
Snapgram ke-4 yang paling rame, mulai dari temen SMA, temen kampus, sampe temen... Tinder lol
Kamu sendiri bagaimana? Apakah sempat tertypu? 😅😅😅
Lying Never Feels Good and Hopefully Will NEVER Feel Good
lagipula kata Friedrich Nietzsche,
“I'm not upset that you lied to me, I'm upset that from now on I can't believe you.”
Saya selaku manusia kebanyakan berpikir sedikit bertindak dihantui oleh rasa bersalah (selain rasa jijik dengan caption cheesy yang saya buat sendiri) yang cukup dalam oleh aksi kebohongan keisengan saya ini. Memang sih saya hanya iseng dan banyak teman saya yang cukup tahu bahwa snapgram-snapgram tersebut hanyalah halusinasi tetapi tetap saja, saya dihinggapi kekhawatiran kalau-kalau keisengan saya ini telah menipu cukup banyak orang dan akhirnya mereka jadi tidak bisa percaya lagi pada saya. Mungkin memang benar adanya,
dan tidak ada yang namanya white lies, berbohong untuk kebaikan. Bohong ya bohong, no excuses. Masih beracuan pada kata-kata Nietzsche di atas, yang paling dirugikan dari kebohongan sebenarnya bukan orang yang dibohongi tetapi orang yang mengucapkan kebohongan itu sendiri karena jika kebenaran terungkap, akan sulit baginya untuk mendapatkan lagi kepercayaan orang lain. Iya sih, Nietzsche juga pernah bilang kalau "lie is a condition of life" which means lying is somehow inevitable for us hoomans but what I want to say is: we at least shouldn't choose someone whose political campaigns are full of lies, false accusations, and defamations!
It's crazy how many lies they've spread all over this country berflower T_T Ora, I know you guys smart people could differentiate mana yang ngibul/hoax mana yang fakta TAPI
Banyak eh masyarakat yang masih menelan informasi mentah-mentah tanpa disaring dulu :( yang gampaaaaaaaaaaang banget percaya apapun yang dia denger/baca terus abis itu broadcast ke mana-mana sehingga makin banyak yang tertypu. Sementara ketika ada berita klarifikasi belum tentu sampai ke mereka-mereka ini T_T
Some other people choose to believe the lie :) because truth, for them, is what they choose to believe... Kalau aku yakinnya begini ya ini kebenaran!
Ya udah deh kenapa sih malah jadi kampanye Fan :") *karena ini hari terakhir boleh kampanye woi
Ini tentang segala hal yang menjadi tak apa karena lagipula.
Baguslah aku membatalkan mimpi menjadi dokter. Seorang dokter tidak mungkin menghadapi luka besar menganga lalu berujar, "Biarkan saja, nanti juga kering sendiri."
Aku seperti itu,
tidak masalah walau sebenarnya aku sakit, lagipula penyebab rasa sakitku itu tidak nyata, hanya ada dalam kepalaku saja.
Sudah 21 tahun kehidupan ini aku jalani... Sejak 1998 sampai 2019 banyak hal sudah terlalui dan sejauh ini semua aman terkendali. Hal buruk tentu banyak terjadi; tapi terima kasih untuk ingatan jangka pendekku, aku sudah melupakan sebagian besar hal-hal buruk itu.
Jadi...
Tak mengapa walau harus menanggung semuanya sendiri, lagipula aku sudah terbiasa dan akan segera melupakannya.
Hidup mengajarkanku bahwa segala sesuatunya akan selesai pada akhirnya. Jadi kalau ada yang berlarut-larut tak kunjung usai, kita tidak boleh menyerah, setidaknya bertahanlah walau hanya berpegangan pada benang yang tipis.
Jadi jangan putus harapan setiap kali semua terasa begitu berat dan jalan keluar tidak terlihat, lagipula kita tahu kalau pada akhirnya semua akan baik-baik saja dan kalau masih 'tidak baik-baik saja', itu karena belum saatnya saja.
Mereka bilang, "Diam itu emas," dan mungkin itu benar karena pengalaman mengajarkanku bahwa banyak bicara cenderung membahayakan. Berbahaya ketika yang kamu bicarakan menyakiti orang lain, berbahaya ketika isi otakmu kelewat absurd dan nantinya ucapanmu tidak akan membuat orang lain paham.
Jadi aku belajar,
diamkan saja masalahmu, tidak usah berbicara, lagipula banyak berkata-kata hanya akan memperkeruh keadaan, anggap saja tidak ada apa-apa. Biarlah waktu yang berbicara.
Ya, mereka juga bilang, "Waktu adalah obat yang paling mujarab." Waktu juga sama seperti 'diam', sama-sama disebut 'emas'. Jadi mungkin itulah mengapa ada keterkaitan di antara keduanya; diam saja, biar waktu yang memulihkan.
Namun, beberapa orang tak sependapat, mereka bilang waktu tidak menyembuhkan karena ia hanya terus berjalan seenaknya, tanpa menunggu orang-orang yang tertatih mengejar ketertinggalan.
Ah, aku tidak tahu, tapi yang jelas aku baik-baik saja, atau setidaknya aku memilih untuk baik-baik saja karena
lagipula siapa yang peduli kalau aku memilih sebaliknya?
lagipula siapa yang mau mendengar keluhan yang tak ada habisnya?
lagipula untuk apa punya masalah? Tidak punya saja hidup sudah cukup suram...