Jarak yang disebabkan keputusan-keputusan yang salah, lorong panjang dan gelap yang dipicu ketakutan-ketakutan karena tahu terlalu dalam, terlalu banyak, terlalu yakin akan kekurangan-kekurangan diri.
"Sepertinya aku tidak bisa."
Aku tidak akan pernah bisa percaya pada diriku untuk sanggup menghadapi dunia. Aku terlalu paham ketidakmampuannya. Aku terlalu mengerti kebodohan, kesombongan, keraguan, dan kemalasannya. Mau jadi apa dia? Bisa apa dia? Hanya akan tertendang ke sana ke mari seperti bola di kaki Kapten Tsubasa.
Aku butuh segelas kopi dan teman bicara, seseorang yang punya cara pikir 180 derajat terbalik dariku. Tolong sinari kegelapan dalam diriku.
Aku suka versi diriku saat bersepeda sambil bersenandung dan sesekali menepi untuk memotret langit dan dedaunan atau memetik bunga-bunga liar di pinggir jalan. Suka dengan diriku saat ia datang ke kelas hanya untuk menorehkan tanda tangan di daftar presensi dan sambil lalu mendengarkan dosen berbicara. Terkadang menggambar doodle di tepian lembar buku, menulis bait-bait puisi yang tak layak diapresiasi, menambah potensi rusaknya mata dengan memelototi feeds Instagram atau ide-ide kreatif di Pinterest...
Tapi aku selalu berhenti pada titik yang sama, sebuah pertanyaan yang aku tidak sanggup menjawab.
Jadi tolong jawab aku,
Hai semesta, menyapamu begitu menenangkan jiwa, tidak seperti menyapa dunia. 'Hai dunia' selalu ingin kulanjutkan dengan keluhan dan keputusasaan. Aku membencinya. Aku takut padanya. Aku ingin berlari lalu bersembunyi di balik tempurung. Kalau hewan saja berbeda-beda; ada yang hidup di laut, terbang di udara, atau ke mana-mana membawa rumahnya, mengapa manusia tidak seperti itu?
"Sepertinya aku tidak bisa."
Aku tidak akan pernah bisa percaya pada diriku untuk sanggup menghadapi dunia. Aku terlalu paham ketidakmampuannya. Aku terlalu mengerti kebodohan, kesombongan, keraguan, dan kemalasannya. Mau jadi apa dia? Bisa apa dia? Hanya akan tertendang ke sana ke mari seperti bola di kaki Kapten Tsubasa.
Aku butuh segelas kopi dan teman bicara, seseorang yang punya cara pikir 180 derajat terbalik dariku. Tolong sinari kegelapan dalam diriku.
Aku suka versi diriku saat bersepeda sambil bersenandung dan sesekali menepi untuk memotret langit dan dedaunan atau memetik bunga-bunga liar di pinggir jalan. Suka dengan diriku saat ia datang ke kelas hanya untuk menorehkan tanda tangan di daftar presensi dan sambil lalu mendengarkan dosen berbicara. Terkadang menggambar doodle di tepian lembar buku, menulis bait-bait puisi yang tak layak diapresiasi, menambah potensi rusaknya mata dengan memelototi feeds Instagram atau ide-ide kreatif di Pinterest...
Tapi aku selalu berhenti pada titik yang sama, sebuah pertanyaan yang aku tidak sanggup menjawab.
Jadi tolong jawab aku,
Apakah bisa aku hidup seperti ini?
Hai semesta, menyapamu begitu menenangkan jiwa, tidak seperti menyapa dunia. 'Hai dunia' selalu ingin kulanjutkan dengan keluhan dan keputusasaan. Aku membencinya. Aku takut padanya. Aku ingin berlari lalu bersembunyi di balik tempurung. Kalau hewan saja berbeda-beda; ada yang hidup di laut, terbang di udara, atau ke mana-mana membawa rumahnya, mengapa manusia tidak seperti itu?
Aku ingin menjadi kura-kura yang bisa bersembunyi saat ia ingin tanpa perlu mencari-cari cara atau tempat; hanya perlu masuk ke dalam tempurung, menunggu semuanya berlalu kemudian melangkah kembali . dengan lambat :")

