Saturday, May 18, 2019

Masih Ada Biji Bunga Matahari

Setelah lagi-lagi harus menelusuri terowongan gelap yang panjang selama kurang lebih dua bulan, aku akhirnya sampai di ujung ketika cahaya mulai terlihat sedikit demi sedikit.

Photo by Jake Oates on Unsplash
Kemudian aku berpikir, mungkin di masa-masa kelam itu biji bunga matahari hanya sedang berjuang untuk tumbuh di dalam tanah yang gelap. Mungkin air mataku menjadi air yang menyiraminya. Lalu bunganya akan mekar. Bunga matahari itu memampukanku melihat dunia dengan cerah ceria, mungkin untuk beberapa lama sampai ia layu, mengering, dan biji-bijinya perlu berdiam dalam gelap lagi. Terus berputar seperti itu. Tak apa, selama masih ada biji bunga matahari, aku tahu aku bisa bertahan dan berharap, Tuhan akan memberinya pertumbuhan. Tuhan akan memberiku kekuatan dan penghiburan.

Photo by Kyaw Tun on Unsplash
Jadi jangan menyerah, kawan. Jika saat ini semuanya terasa begitu berat dan kamu kesulitan melihat secercah cahaya, ingatlah, biji bunga mataharimu sedang berusaha keras menerobos gelapnya tanah untuk memberimu setangkai, bukan, bertangkai-tangkai bunga matahari kuning yang cerah dan bahagia. Bersabarlah, bertahanlah, kamu tidak sendirian. Ada yang sedang berjuang bersamamu, masih ada biji bunga matahari.


Monday, May 6, 2019

1/3 Akhir


Mei, 2019

"Tiba-tiba... hal yang sebelumnya begitu berharga menjadi jauh berjarak dan yang dulunya bukan apa-apa, menemukan jalan menjadi dekat bermakna."

Asrama, yang selalu aku banggakan dan sayangi, sekarang kerap membuatku merasa asing dan bertanya-tanya, dan ini bukan pertama kali... Aku kira mereka sudah paham dan mengerti, ternyata aku masih saja kebingungan, "Apa salah dan dosaku sayang?"

Unit Kerohanian Kristen UGM, yang dulunya aku begitu resisten terhadapnya, sampai-sampai tidak pernah mau terlibat di kepanitiaan atau apapun itu, sekarang mulai terasa seperti rumah yang hangat dan nyaman.

Semester 6 membuat banyak hal di kelas seolah harus lebih serius dan tegang. Perpisahan yang seharusnya masih 'nanti' sudah terasa dan bahkan terjadi saat ini. Dingin, asumtif, egois, dan individualis.




KKN hadir di waktu yang tepat. Syukurlah walau semula ngotot ingin KKN di Magelang atau Temanggung saja, eh malah mencemplungkan diri ke Banggai Kepulauan. Ke-random-an yang membawa berkat. Teman-teman baru yang baik, cerdas, solutif, inspiratif, menyenangkan, dan menuju semakin solid. Aku selalu senang menjadi penyeimbang.

Keseimbangan lain seperti,

Ada mata kuliah seminar yang membuat gila tapi ada sastra perjalanan yang mewaraskan...

Ada dosen seperti si tukang makan bayam tapi juga ada Bu Rini yang seimbang cantik paras dan hatinya...

Related image

Absurd, kala merasa telah mendewasa, tak sadar kita menjilat ludah sendiri; yang berujar akan terus menjaga kanak-kanak dalam pribadi. Bahwa persahabatan dan cinta adalah yang paling berharga. Uang, kesombongan, dan nikmat dunia lainnya adalah sia-sia. Terima kasih Tuhan (dan Pangeran Cilik).

Pikiran selalu bekerja berkali lipat lebih sibuk setelah banyak bertemu manusia lain. Quora dan rapat-rapat. Ruang-ruang bertemu ide-ide yang berseliweran. Belajar lagi dan lagi tentang empati dan peduli. Lebih baik mengalah daripada memenangkan emosi.

Sedikit lebih berani menantang adiksi. Menyadari candu itu telah mencuri demikian banyak damai dalam hati. Menggerogoti pilar-pilar percaya diri. Imposter syndrome menjadi-jadi. Harga diri terkikis ditelan bumi.

1/3 akhir masa kuliah. Langkah sudah begitu jauh menjelajah, hanya bisa berterimakasih pada Allah. Untuk segala takut dan ragu yang terus Ia buktikan salah. Semua timing yang ternyata selalu tepat, membuatku berani untuk percaya; KKN-magang-skripsi juga Ia pegang setiap prosesnya.

Dua hal terakhir: menjangkau jiwa-jiwa dan pasangan hidup. Tetaplah berdoa.