Tuesday, March 3, 2020

Mimpi Seorang Teman Nelayan

Aku berkawan akrab dengan nelayan sejak Natal yang lalu, tidak dalam arti yang sebenarnya, penyakit batuk dan sakit tenggorokan yang tak kunjung pergi ini membuatku harus selalu menyediakan permen "Fisherman's Friend" di tas, pertolongan pertama jika batuk tidak mau berhenti karena tenggorokan terasa gatal. Berteman dengan nelayan ternyata cukup bermanfaat, sekarang aku jadi suka minum madu gara-gara rasa permen yang "honey lemon" ternyata sangat enak! Aku juga jadi lebih sedikit mengonsumsi makanan ringan, bye bye kalori berlebih...

Hari ini aku sedang duduk santai di dekat jendela besar belakang meja kerjaku di kantor (aku sedang magang di Spedagi Movement, NGO yang kuteliti untuk skripsi) sambil menggulir timeline Twitter dan melihat sahabat terkerenku Putal me-retweet sebuah artikel Magdelene tentang (tentu saja) feminisme, saat kemudian otakku yang gemar bekerja secara random menayangkan suatu informasi dari masa lampau: dulu aku pernah terpikir, kenapa Putal tidak ingin menjadi penulis padahal dia seorang kutu buku berat dan tulisan-tulisannya bagus. Memikirkan itu membuatku teringat juga dengan jawaban Tepani, sahabat asrama terproduktif, ketika kutanya apakah dia berniat menjadikan menulis sebagai karir, Tepani menjawab 'tidak'. Selanjutnya pikiranku mengembara pada tugas-tugas magang yang membuatku mengalami stres terpendam: stres yang tidak terlihat di permukaan tetapi sebenarnya sangat merongrong kedamaian jiwaku sampai-sampai tidak bisa tidur padahal, tugas magangku adalah MENULIS! Ya ampun... Otomatis aku juga jadi tersadar bahwa; kalau aku memang suka dan ingin jadi penulis, harusnya aku tidak malas-malasan menulis skripsi.

Ya, lagi-lagi hidupku sungguh patut dipertanyakan...

Photo by Matthew Henry on Unsplash
Tapi tidak apa-apa...

Setelah selesai bersantuy di dekat jendela, aku kembali mengerjakan tugas dan tanggung jawabku ketika sebentar kemudian Pak Singgih, founder Spedagi Movement, bertanya,

"Kamu memang dari dulu tertarik kerja di kota kecil?"

Iya Pak

"Kenapa? Kan jarang ada orang yang seperti itu."

Ehm... lebih tenang aja Pak, tingkat stresnya lebih rendah. 

Ya, aku  tidak berbohong sih, itu memang salah satu alasannya. Tentu ada alasan-alasan lain, yang merupakan perenungan tak berujungku sejak semester 1; aku pengen kerja di Temanggung/Magelang aja, karena ya... emangnya sukses harus di kota besar? Terus orang yang sukses di kota kecil disebutnya apa? Emang ga ada orang gagal di kota besar? Sukses dan gaji besar tapi nggak bahagia, apa gunanya? Iya sih pasti ada banyak orang yang sukses dan bahagia di kota besar tapi emang aku harus pengen kayak gitu juga? Pasti ada juga sih orang yang gagal dan depresi di kota kecil, yang nyesel ga merantau juga banyak. Tapi... tapi despite it all aku nggak pengen hidup di kota besar. Aku mau mengabdi pada dua kota yang membesarkanku, mau dekat dengan orangtua dan nenek, dan segenap tetangga yang menemaniku tumbuh... Boleh, kan?

Mungkin yang perlu aku lakukan sekarang dan ke depan adalah melakukan yang terbaik yang aku bisa, menunjukkan bahwa aku bisa berhasil walau tidak di kota besar. Ngomong-ngomong soal melakukan yang terbaik, kayanya aku harus jujur bahwa aku jarang banget melakukannya. Efek kekecewaan masa lalu yang masih membekas (aku pernah melakukan yang terbaik dan gagal). Sekarang aku malah biasa melakukan yang terbaik buat hal-hal yang 'receh' atau hanya untuk sesuatu yang aku sukai. Misal, aku niat banget kalau bikin instastories: edit di tiga atau lebih aplikasi, bahkan pake acara revisi! Bikin artjournal juga niat banget. Latian padus juga I do my best. Meanwhile di hal-hal lain yang sebenarnya adalah tanggung jawab utamaku, aku malah males-malesan: skripsi, nyiapin portofolio buat cari kerja, cari murid les, ngebantu ortu, dan merawat diri. Aku bahkan pernah membahasakan sikapku ini kayak gini; "my life is priority spelled backward."

Photo by Kate Stone Matheson on Unsplash
Kayak, if the result is unclear, I hesitate to do my best. But I want to stop this toxic trait. I want to change, I want to be a better version of me. I want to do my best in everything without hesitation...  Because today, after finishing my presentation and discussion with Pak Singgih, I finally realized what I want to do; 

Aku pengen tetep di Temanggung; ngajar Bahasa Inggris atau lanjut di sini di Spedagi, terus buka usaha catering sama Mama di rumah, merealisasikan "brownies in the besek", dan menjual keripik talas kemasan kertas... sambil jadi penulis lepas, aktif pelayanan di gereja, dll dll dll~~~

Semoga bisa ya,

Yuk semangat~