Saturday, September 29, 2018

Di Penghujung Bulan September Yang Aneh

Hai guys! Iya, bulan September tahun ini memang aneh! Salah satu keanehan terbesarnya, aku tidak menunggu-nunggu Oktober datang! Ha ha! Aku baru saja sadar soal itu sih sebenarnya, tapi itu bener-bener keren loh buat aku yang pecinta Oktober-November-Desember ini! Itu artinya aku menikmati tengah tahunku! Puji Tuhan memang semester ini aku sudah semakin mengerti bahwa aku baik-baik saja. Kecenderungan sedih dan depresif ku itu hanya karena stres berlebih atau kesukaanku pada hal-hal yang sedih (karena menurutku, sedih itu 'nyeni'. He he). Puji Tuhan, Retreat Kampus Nasional juga membuatku jadi lebih selalu mengingat Tuhan, berusaha hidup lebih positif karena menyadari bahwa keseharianku seharusnya mencerminkan sikap Allah, dan bersemangat untuk menjadi lebih baik karena 'visi pasangan hidup' LOL *Ampuni daku ya Lord.

Di penghujung bulan September yang aneh ini aku juga ingin membagikan beberapa keanehan yang aku alami bulan ini:

1. ICVR 3!

Earlier this month, aku daftar jadi volunteer LO ICVR 3! Apa itu ICVR? ICVR atau International Conference on Village Revitalization adalah sebuah kegiatan dua tahunan yang berfokus pada revitalisasi desa dan selalu diadakan di desa! Tahun ini adalah pelaksanaan yang ke-3 dan akan diadakan di Desa Ngadimulyo, Temanggung! Pencetus dari kegiatan ini adalah Pak Singgih S Kartono, seorang desainer produk lulusan ITB yang wong asli Temanggung ini telah menciptakan radio kayu Magno dan sepeda bambu Spedagi. Pak Singgih memang sejak awal memiliki visi untuk 'kembali ke desa', beliau, melalui Spedagi Movement ingin menyuarakan bahwa kehidupan yang lebih baik ada di desa, jadi ayo kita kembali ke desa. Keren gila ga sih? :") Akhirnya ada gitu yang bisa dibanggakan dari kampung halamanku! Ha ha...




Tuhan yang baik membukakan aku pintu diterima menjadi LO buat ICVR 3 yang akan berlangsung bulan November tanggal 22-25. Aku bersyukur banget karena melalui ICVR 3 ini aku belajar banyak hal. Gila ga sih? Baru juga kumpul panitia dan volunteer tiga kali aja udah berasa banget manfaatnya, apalagi sampai November besok kan :") Makasih Tuhan~~~

Mas dan Mbak yang mengurusi gawe ini adalah orang-orang keren, kreatif, dan baik yang memancarkan aura positif he he... Kemampuan bersosialisasiku yang kurang ini membuatku belum bisa akrab dan cair banget sama mereka tapi aku merasa nyaman dan welcomed gitu sama mereka :") Kami berasal dari tempat yang beragam, ada yang memang orang desa, orang desa yang nggak desa-desa banget, sampe yang orang kota yang nggak ada desanya sama sekali tapi suasana yang terbangun bener-bener gayeng :") ku suka... ku bersemangat untuk bisa lebih mengenal mereka :")

Maybe for the first time after forever, I have no fear of rejection in a new place with new people :""") 

2. Motor!

HAHA! THE BIGGEST DRAMA OF MY 19th YEAR OLD AGE is probably perjuanganku untuk semakin lihai mengendari sepeda motor! Dan bulan September ini, aku harus menghadapi realita adanya motorku di asrama which means aku harus mau nggak mau manasin mesinnya dan mencoba mengendarainya di Jogja.

Well, so far dia baru kupanasin 2x dan 1x kubawa ke luar asrama buat isi bensin: dan gagal karena pom sebelah asrama tutup! :")

ICVR 3 juga memaksaku harus motoran ke Kedu dan bahkan Kandangan (nama-nama kecamatan di Temanggung yang cukup jauh dari kecamatanku Kranggan). Hari ini, Sabtu 29 September 2018, untuk pertama kalinya aku motoran di gelapnya malam sendirian! :")

Ahahahaha... aku masih tetap tidak ingin menjadi pengendara motor sungguhan tapi mau tidak mau aku mengakui: Seandainya aku nggak dipaksa belajar mengendarai motor, MANA BISA AKU IKUT ICVR?!

Maybe for the first time in my entire motorcycle riding career, I feel grateful for it. HAHAHAHA


3. S E P E D A!

11 September 2018 was a gloomy day for me :") Sepedaku yang sudah bersamaku sejak kelas 6 SD (dan adalah hadiah ulang tahun!) HILANG DICURI!

Drama hilangnya sepeda ini diikuti dengan rentetan tragedi selama satu minggu lebih setelah kejadian yaitu

mata bintitan (yang membuat harus beli obat yang tidak murah!)  - sakit tenggorokan  (yang membuat harus membeli obat yang juga ternyata tidak murah!) - tepar karena flu (yang membuat skip kelas padahal sudah berhasil rajin sejak awal semester!) - telat membatalkan ikut lomba paduan suara (dan harus tetep bayar karena udah dibeli kain bahan gaun :") - nggak bisa minum es dan makan enak (karena sakit berkepanjangan :")

Well, the sunny sides were there too:

Gojek yang PEKA dengan hilangnya sepeda memberikan banyak voucher gratisan GoRide dan GoCar - Ada seorang Om yang jual sepeda di OLX dengan harga terjangkau - belajar mengobati diri tanpa harus ke dokter atau minum banyak obat - muka lebih mulus dan berat badan terkontrol karena tidak bisa makan sembarangan haha

Maybe for kesekian kalinya, aku harus belajar dari kesalahan dan lalu belajar menertawakan kesalahan itu sendiri 

4. Skenario Bucin :")

*mata berkaca-kaca

No, no, I'm not gonna share my writing here. Biarkan #BucinScenario ku hanya menjadi konsumsi publik pengguna Line :") intinya adalah, aku di suatu pagi saat boker di toilet asrama, mendapatkan wahyu kisah cinta yang sungguh indah! *dan cukup realistis kok :") kemudian aku menuliskannya dalam status line 3 jilid dengan tajuk "Pendamping Wisuda Dadakan" beserta tagar #BucinScenario... Tulisanku cukup berhasil menipu orang-orang, ada yang mengira kisah itu sungguhan terjadi. Beberapa kawan lain terbawa kebaperan berkat tulisan tersebut. Hmm, aku suka dengan respon positif netijeng TAPI...

tapi aku jadi beneran baper sama orang yang tidak sengaja aku jadikan tokoh utama fiksi karanganku :") aku yang awalnya hanya sekadar tahu tentang reputasi 'keren'nya, sekarang jadi berharap lebih. Iya, aku tahu aku bodoh. Aku tahu aku hanya emosional dan terbawa perasaan seperti yang sudah sering terjadi. Aku tahu tidak baik membuat sendiri skenario cinta :") tapi aku tetap melakukannya...

Aku tidak ingin membahas ini lebih lanjut. Jujur, saat ini aku sedang benar-benar ingin menangis karena dia. Dia yang bahkan aku tidak pernah bertemu. Dia yang dengan keberadaanku saja tak menahu.

Maybe next time I should refrain myself from writing that kind of thing even though the plot is perfect 

 ----

Sekian tentang Septemberku yang unexpectedly ceria :D despite every kebodohan yang agak menodainya wkwkwkw... 

and sefruit fact about this human

 


Saturday, September 15, 2018

[A Mourning Post: My Lost Bicycle]

Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang

Selama aku masih bisa bernafas
masih sanggup berjalan
ku kan selalu memujamu
Meski ku tak tahu lagi
engkau ada di mana

Dengarkan aku... Ku merindukanmu 

Sepedaku hilang, guys. H I L A N G. Seseorang merenggut salah satu benda kesayanganku, ia nyaris selevel berharganya dengan Piyo. H I K S.

Aku sedang dan masih menangisinya. Sudah empat hari kulalui tanpanya. Berangkat kuliah yang biasanya saja sudah berat karena kemalasanku, kini bertambah karena ketiadaan kendaraan dan rindu yang harus kutahan setiap melintasi jalanan yang biasa kulalui dengannya. Belum lagi jalan-jalan lain; Sagan, Jalan Colombo, Cik Di Tiro, dan lainnya. R I N D U itu berat, seperti kata Dilan.

Aku masih enggan membeli sepeda baru, bahkan meminjam sepeda orang lain pun aku belum ingin. Beberapa hari ini aku ke mana-mana dengan Gojek, menebeng motor teman, atau berjalan kaki. Rasanya seperti berlari tanpa kaki karena kaki-kakiku tak lagi bisa mengayuh pedalnya.

Tegar
Ku kan mencoba melewatinya
Lepas
Lepaskan semua yang sudah berlalu
Tapi tanpa dirimu tak mungkin
Ku terus berlari tanpa kaki... 

Friday, September 14, 2018

Retret Kampus Nasional Navigator 2018


“Hancurkan saja Fani sekali lagi Tuhan, jika itu berarti akan lebih mudah bagi-Mu untuk membentukku.”

Ide ini terus terngiang di benakku semenjak RKN kemarin berakhir. Beberapa teman menceritakan pengalaman orang-orang lain yang dulu hidupnya begitu hancur kemudian diubahkan ketika bertemu Yesus. Seorang teman lalu menyampaikan bahwa memang lebih mudah bagi seseorang yang hancur untuk dibentuk, kita yang terbiasa hidup nyaman cenderung penuh dengan kepalsuan sehingga sulit untuk diubahkan. 

Saat aku mendengar hal tersebut aku di dalam hati menyetujuinya dan mengingat entah berapa kali Tuhan sudah mengizinkan aku jatuh terpuruk selama lima tahun belakangan ini. Untuk kedaginganku, ke’aku’anku, semua itu adalah bencana bahkan rencana Tuhan yang begitu tega dan tidak baik. Aku berulangkali mempertanyakan dan menyalahkan-Nya. “Kenapa sih Tuhan?” dan pada akhirnya mungkin aku belum benar-benar terbentuk. Kemarahanku membuatku gagal melihat rencana Tuhan di balik kehancuran yang Ia izinkan untuk terjadi. 

Ketidakmampuanku untuk melihat rencana-Nya adalah juga karena baik kejadian-kejadian yang terjadi di luar diriku maupun dosa-dosa yang dengan sadar aku lakukan, ‘penghancuran’ yang aku alami seringkali diintervensi oleh Iblis. Ia membuatku berpikir bahwa aku tidak pantas lagi untuk digunakan oleh Tuhan menjadi pekerjanya. Aku begitu penuh dengan kemunafikan. Dosa-dosaku begitu mengikatku dan menarikku ke bawah, menjauhkan aku dari rancangan-Nya yang sesungguhnya. Akhirnya aku pun bertanya-tanya, “Apakah Tuhan masih mau memakaiku?” karena aku merasa begitu hina dan tidak layak, munafik dan palsu. 

Aku juga begitu penuh dengan ‘aku’. Hidup ini bukan tentang diri kita sendiri dan ketika kita terlalu berfokus pada diri-sendiri, penderitaan dan keuntungan diri, menjadi sulit bagi kita untuk melihat rencana Tuhan. Keterpurukan dan permasalahan hidup yang aku alami membuatku hanya terpaku pada penderitaanku, aku jadi suka mengasihani diri dan merasa sebagai orang yang paling merana di muka bumi. Akibatnya, aku kehilangan kemampuan untuk memedulikan sesama, “Untuk apa peduli? Aku LEBIH menderita!” pekik kesombongan dalam diri. Kemudian seperti siklus setan yang tiada henti, aku merasa berdosa (sombong, egois) dan semakin merasa tidak mungkin untuk Tuhan pakai.
Imanku mengamini bahwa bukanlah suatu kebetulan aku bisa mengikuti RKN kemarin. Aku bisa ikut bukan sekadar karena kebetulan lokasi retretnya dekat dan bahkan satu kompleks dengan asrama tempatku tinggal di Yogyakarta. Aku bisa ikut bukan pula karena gabut nggak ada kesibukan lain seperti ospek atau magang atau KKN. Aku bahkan mengimani bahwa keikutsertaanku adalah bagian dari jawaban Tuhan atas doa-doaku di bulan-bulan terakhir ini ketika aku merasa begitu jauh dari-Nya dan tidak layak di hadapan-Nya. “Tuhan masih mau pakai aku nggak sih? Kalau iya kenapa Tuhan biarkan aku seperti ini? Tolongin Fani dong,” kira-kira seperti itulah isi doaku, yang tidak aku doakan dengan sikap yang benar, hanya teriakan emosional di dalam hati. 

Terimakasih Tuhan, yang tidak menyerah dan tetap mencariku, menerima, dan mengampuniku. Mungkin seperti itulah hal terpenting yang aku dapat dari RKN; Tuhan masih mau memakaiku, panggilan-Nya masih sama, janji-janji-Nya masih berlaku karena aku pun adalah anak Abraham. Luar biasa memang, seluar biasa itu memang Tuhan kita. I’m beyond blessed and grateful. 

Selanjutnya adalah kisah-kisah lain di luar hal tersebut di atas. Yang paling seru untuk dibahas sudah jelas adalah perihal pasangan hidup (PH). Sejak awal RKN, tanpa kami (para peserta) meminta atau bagaimana, para staff Navigator sudah membicarakan hal-hal yang ‘menjurus’ ke sana, “Nikmati retretnya, siapa tahu menemukan yang mau didoakan untuk jadi pasangan,” ya kurang lebih seperti itulah. Heol, tolong Om, ini retret pertama yang aku berkomitmen buat nggak cari jodoh! Kenapa malah disarankan LOL... dan ya mau bagaimana lagi, karena PH menjadi pokok bahasan yang walaupun bukan utama tapi memang difavoritkan siapa saja (HAHA), aku pun jadi ikut terjerumus wkwkwkw... 

Entah itu melihat-lihat apakah ada orang-orang lain yang terlibat ‘cinlok’? Mengagumi pasangan-pasangan Navigator (yang keduanya alumni Nav, dipersatukan setelah melalui proses saling mendoakan) sementara juga sibuk menasihati hati untuk tidak jatuh karena aku ingin terlebih dahulu mendoakan kriteria PH-ku, dengan hati yang murni bukan hati yang baper :”) I’m done falling in love, God. Let me fall on You instead whilst praying for a good husband until he come along saying he’d prayed for me. 



(lanjut nulis sebulan lebih setelah RKN lol)

Well, till now still having a major struggle behaving my heart :((( dan... seperti yang aku takutkan, begitu aku 'keluar ke luar', kembali ke realita hidup sehari-hari...



Sunday, September 2, 2018

Tentang Cuaca dan Sudut Kota

Sensitif dengan suasana, bahkan cuaca dan aroma. Sudah September, menjelang akhir tahun dan vibe-nya yang selalu aku suka, tapi mendung dan anggukan daun-daun di luar jendela asrama membawaku pada masa-masa yang lama. Aku tidak ingat persis apa yang membuatku merasakan gelitikan-gelitikan kecil ketakutan beberapa hari ini setiap kali langit mulai mengabu dan hembusan angin siang hari terasa dingin. Ada kilasan memori masa kecil yang melintas dalam benak namun aku belum mampu menangkap dengan jelas apa yang aku takutkan.



Atau mungkin aku hanya takut untuk merindu. Enggan mengenang masa lalu yang 'aman', aman karena sudah berlalu, aman karena saat itu aku belum mengenal dunia dan lebih banyak kebusukannya, aman karena versi kecil dari diriku itu masih begitu polos dan tak banyak terluka. Mengingatnya hanya akan membuatku sedih dan ingin kembali... Walaupun di sisi lain, aku seharusnya bahagia memiliki masa kecil yang sedemikian indahnya sampai-sampai aku ingin memutar kembali waktu.  

Iya ya, dulu aku bahagia. Masa kecilku memang bukan masa yang aku lalui dengan kisah-kisah indah kedekatan dengan orangtua, kami tidak jauh -- tapi juga tak terlalu erat. Masa kecilku penuh dengan tangisan dan kemarahan -- emosional dan sensitif sejak dini haha. Masa kecilku banyak diisi dengan khayalan-khayalan: pesta ulang tahun bersama boneka-boneka, obrolan-obrolan tentang masa depan dan kesuksesan bersama Piyo-piyo, tulisan, gambar, rekaman suara, dan kerajinan tangan sebagai sarana meluapkan ide-ide yang tiada berhenti mengalir. Overthinking juga dimulai sejak dini! 

Mungkin sekarang aku takut setiap kali sebuah sudut bangunan yang aku lalui di jalan mengingatkanku pada jalanan yang aku lintasi di suatu siang saat aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Aku bergidik ngeri manakala warna langit dan temperatur udara yang aku rasakan kini mirip dengan yang kerap aku alami di usiaku yang ke-9 ketika mengantarkan Cicik les piano. Aku takut karena aku ingin kembali atau justru karena menyadari bahwa aku masih aku yang sama...

 

Aku ingin kembali karena dalam waktu sebulan lagi usiaku bukan hanya dua digit lagi tapi sudah berkepala dua, padahal jiwa di dalam diriku masih ingin bersenang-senang dalam imajinasi dan potongan kertas kreativitas. Kakiku masih suka melompat-lompat tak ingin menyembunyikan saat diri bahagia. Air mataku masih suka berlaku jujur -- menangis begitu saja saat diri berduka. Pikiranku masih cinta berkelana memikirkan ini dan itu lalu tertawa, sementara kakiku tetap tak rindu berkelana menjelajah. Aku masih mencintai rumahku, orang-orang yang familiar, musik-musik yang sama, pedestrian yang biasa aku pijak, rumah makan yang itu-itu saja...

Aku belum mendewasa, masih begitu ceroboh dan kekanakan. Aku tidak siap untuk dunia, aku tidak ingin kehilangan kehangatan rumah dan lingkar kecil persahabatan. 

Saat 16 Oktober 2018 tiba, bisakah keajaiban terjadi dan bukannya bertambah tapi usiaku justru berkurang? Selamat ulang tahun yang ke-18 dan bukannya ke-20? 

.
.
.

*hanya bermaksud menelusuri alasan belakangan ini aku sensitif dengan cuaca dan sudut-sudut kota, ternyata menuliskannya membuatku sadar; anak kecil di dalam diriku sedang dilanda ketakutan menjelang pertambahan usia :") Semangat Fan! Keep on praying and read His words~ don't be afraid :) semua akan baik-baik saja, have faith, little fighter!