Wednesday, July 25, 2018

Nyesek


Nyesek itu saat kamu nungguin download film dengan berdebar-debar, downloadnya sampe 3 jam dan pas selesai langsung dibuka pas detik itu juga dan file-nya corrupt. Like SHOOOOT~ wyd life?! 

But then turned out aku ga kecewa-kecewa amat and I thought to myself, "See? It's either because we're already too used to it or because life never guarantee us it would never disappoint so when it upsets you (which happens pretty often), you can just accept it." 

Berbeda kan dengan 'sesuatu' yang selalu dikoar-koarkan tidak akan pernah mengecewakan kita tapi malah sering bikin kecewa.

He will never let you down

but God, I deserve to be let down... 

Nyesek juga itu kalau aku ada di posisi Tuhan sekarang, melihat kehidupanku yang sehancur ini padahal Tuhan udah berbaik hati menyelamatkan. Mungkin suara hati Tuhan berbicara seperti ini, "Nyesek cuk, ngertio ra rekasa aku gawe koe. Sengsoroku ming mbok siya-siya." 

Tapi gimana ya. tendensi dosaku udah begitu besar dan aku udah ga sanggup menghentikan diriku buat ga terus terjerumus.  

You think it's easy? You think I don't wanna run to You?  

so let me just give up
let me just let go
if this isn't good for me well I don't wanna know
so over all these bad lucks
hearin one more  'keep your head up'
is it ever gonna change? 
you don't know what it's like 
don't look at me like that
just like you understand
don't try to pull me back

(cited from Katelyn Traver - You Don't Know) 

Ya, tulisan ini memang dibuat untuk jadi tidak masuk akal, hanya seperti racauan orang gila karena memang seperti itulah isi kepalaku. Aku ingin meneriakkan ini semua. Sungguh, ada terlalu banyak hal yang membuatku gila. 


Wednesday, July 18, 2018

It's Alright~ [Drama Korea: Ms. Hammurabi Review (?)]

Saat kita menonton drama yang bagus, waktu terasa cepat berlalu, tahu-tahu sudah episode terakhir saja. Sebaliknya, drama yang menurut 'alam bawah sadar' kita kurang bagus akan membuat kita frustrasi dan terus-terusan mengecek waktu ketika menontonnya, "Kapan habis sih?!". Jujur, bertambahnya usia dan pengalaman menonton drama korea membuatku picky alias pemilih dalam menentukan drama mana yang ingin kutonton. Aku tidak lagi menonton semua drama yang ngetop, direkomendasikan banyak orang (yang biasanya adalah penggemar drakor lebih 'junior' *lol dasar sombong), diperankan aktor ternama, atau bahkan yang mencetak rating tinggi. Aku lebih memilih drama yang 'memang ingin aku tonton'. Oke, masalah pemilihan drama ini akan aku bahas di tulisan lain. Nah, Ms. Hammurabi adalah salah satu drama yang membuatku ingin menontonnya.



Awal adanya berita pembuatan drama ini aku tidak terlalu tertarik. Mainly karena pemainnya adalah L Infinite (Kim Myung-soo) dan Go Ara yang sejauh yang aku tahu dari drama-drama mereka sebelumnya memiliki kemampuan akting yang... mengecewakan. Aku belum pernah menonton dramanya L yang sebelumnya sih, tapi Go Ara cukup membuatku gregetan saat menonton Hwarang (eh tapi alur cerita drama itu juga patut dipersalahkan sih). Sebagai seorang Inspirit (fans Infinite) aku akui kegantengan L menjadi salah satu faktor yang akhirnya membuatku ingin menonton Ms. Hammurabi. Alasan lainnya adalah berita-berita positif di awal penayangan drama ini. Lagipula ada Om Sung Dong-il dan hey ini drama hukum! Drama dengan kasus-kasus! Itu kan favoritmu Fan... Akhirnya dimulailah karir menonton Ms.Hammurabi-ku...

Kecepatan internet rumah yang memang menyedihkan untuk download memaksaku untuk streaming. Aku mulai menonton saat drama ini sudah separuh jalan, sekitar episode 8. Sempat terpotong karena ada summer course, aku melanjutkan menonton lagi minggu lalu dengan maraton ep 12-13 kemudian baru bisa merampungkan hari ini dari ep 14-16 :") Perjalanan menonton yang kurang biasa buatku, karena biasanya aku selalu mengunduh setiap episode, atau kalau maraton ya maraton sekalian tapi kali ini aku harus maraton 2-3 episode, mengunduh 1-2 episode, dst haha... Cukup sedih karena akan menyulitkan untuk menonton ulang :") semoga ada teman yang punya atau mungkin besok aku harus memanfaatkan fasilitas wifi kampus dengan maksimal.

Sejak awal aku sudah jatuh cinta dengan 'tone' drama ini. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin bagaimana mengatakannya jadi aku pakai saja istilah 'tone'. Ms. Hammurabi yang walaupun bersetting di pengadilan, masih memiliki slice-of-life vibe karena kasus-kasusnya yang dekat dengan keseharian kita. Tema besar yang diambil drama ini menurutku adalah 'feminisme'. Aku tidak terlalu paham soal feminisme sih, tapi dilihat dari kasus-kasus yang ditangani 3 hakim tersayang di Departemen 44 sih, isu kesetaraan gender bisa dibilang mendominasi. Ms. Hammurabi yang adalah julukan untuk karakter yang diperankan Go Ara yaitu Hakim Park Cha Oh-reum, adalah simbol perlawanan dan perjuangan perempuan menuntut hak-hak mereka. Bersiaplah untuk melihat kasus-kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, KDRT, dan sejenisnya. Namun tenang saja, drama ini bukan drama 'berat' yang menuntut kita berpikir keras seperti Forest of Secret. Di luar kasus-kasus 'semacam itu' kita juga akan melihat kasus-kasus lain yang lebih santai karena pada dasarnya Departemen 44 bertugas mengurus kasus perdata, hanya saja beberapa kali mendapat limpahan kasus pidana. Dan jangan salah, Ms. Hammurabi tidak menghabiskan episode demi episode hanya di dalam ketegangan ruang sidang, ada banyak 'kasus' di luar persidangan seperti masalah keluarga tokoh-tokohnya, kisah asmara, persahabatan antar hakim, isu senioritas di dunia kerja Korea, dan masih banyak lagi cerita slice-of-life yang menghangatkan hati. PLUS! OST-nya sungguhhhhh bagus-bagus :") apalagi yang liriknya "It's alright~" yang selalu menjadi penutup setiap episodenya, membuat pemirsa merasa tenang se'nggantung' apapun akhir dari episode itu wkwkwk...



Hati-hatilah karena Hakim Im siap membuatmu jatuh cinta dengan senyuman dan lesung pipinya, Hakim Park akan membuatmu mengagumi semangat dan kebaikan hatinya, Hakim Jung yang membuatmu ingin memiliki sahabat seperti dirinya, Hakim Han dengan sifat kebapakan dan kebijaksanaannya yang selalu sukses bikin mata berkaca-kaca tapi juga sering konyol atau juga meledak-ledak, dan Sekretaris Kim yang super cantik, smart, dan keren. Belum lagi tokoh-tokoh lain yang serius, bagus banget penggambaran karakternya, masing-masing punya kekhasan yang entah bikin suka atau super jengkel. But at the end, semua karakter yang ada membuat kesatuan drama yang begitu pas dan membuatku tidak rela harus berpisah dengan mereka semua. Buatku, salah satu parameter keberhasilan drama adalah ketika tokoh-tokohnya membuat kita sayang dan saking sayangnya jadi bener-bener nggak pengen drama itu selesai karena rasanya kayak pisah sama sahabat deket sendiri :") dan WOI aktingnya L sama Go Ara watchable lah di sini~ chemistry nya juga dapet! *the 2nd couple is better tho XDDDD

Thanks for the very good & heart-warming 16 episodes, my Ms. Hammurabi squad! 

Here are some pictures and quotes from ep 16  (SPOILER ALERT!)

 (salah satu dari BANYAK adegan kerennya Jung Bo-wang :")

 (Demi apapun deh, kalian unyu banget!!! I can literally see you both together in real life )


(Yeps, Park Cha Oh-reum emang sekeren itu, walau banyak childish dan ngawur-nya juga tapi 'dampak' dari apa yang dia perjuangkan sejak ep 1 tu bener-bener terasa!)

  
(Cewek ini adalah salah satu orang yang berubah berkat Oh-reum, berubah menjadi jauh lebih baik tentunya :")


"It may look like striking a rock with an egg, but surprisingly, it can change the world at times if someone asks a question. The kind question that no one is asking even though it must be asked."
-Im Bareun

(seriously throughout the 16 episodes, he has said so many good quotes since he's an introvert who doesn't talk much but always have deep thoughts. And this quote is kinda related to Oh-reum's speciality which is asking the 'right questions' to witness/defendant/everyone~ and that talent has inspired much!)

"If you're trying to truly understand someone, pur yourself in her shoes. You must become that person."
-Im Bareun

(quotes yang udah pernah denger sebelumnya tapi ketika diucapkan pas adegan 'itu' gila sih... Adegan apa sih? Penasaran kan? Ditonton gih dramanya :")





--SEKIAN REVIEW GA JELASNYA-- 

*random additions
Honestly aku torn kalau harus milih drama terfavorit sepanjang masaku sekarang wkwkw... Sebelumnya sih memang kayanya nggak pernah yakin, cuma punya list drama-drama terbagus versiku aja tanpa ada urutannya. Tapi kayanya sekarang yang nomer 1 Ms. Hammurabi deh soalnya dia lengkap gitu, mencakup 2 genre kesukaanku yaitu slice-of-life dan kasus-kasus lol... so this is just a note for myself (and while I'm on the mood to list)
- Ms. Hammurabi
- Signal
- Forest of Secret
- Reply 1988
- Wise Prison Life 
- Because This is My First Life
- This Week My Wife is Having an Affair
- Solomon's Perjury
- Misaeng
- Tunnel
- Voice 
- Buamdong Revenge Social Club

Monday, July 16, 2018

Sebenarnya Aku...

Pernah nggak, merasa bingung akan satu hal; hal itu sebenarnya positif atau negatif. Misalnya kamu ambisius, di satu sisi itu positif karena membuatmu bersemangat meraih target namun di lain sisi bisa jadi negatif karena mungkin kamu bakal dimusuhi orang-orang yang iri atau merasa dirugikan dengan keambisiusanmu. Contoh lain adalah apa yang aku alami; aku sangat suka berimajinasi. Hampir setiap kejadian dalam hidupku bisa aku jadikan bahan imajinasi. Dulu di masa kecilku aku rasa hobi ini bermanfaat untuk membantuku mengerjakan tugas bahasa, mengisi waktu luang dengan menulis cerpen, atau sekadar berkhayal ini dan itu untuk mengisi waktu dan menghibur diri yang memang tidak punya banyak teman. Namun sekarang, aku terbelah. Sebagian dari diriku masih sangat mencintai kemampuan otakku berimajinasi, walau kalau dipikir-pikir satu-satunya manfaatnya yang tersisa adalah membantu memberi ide menulis saja. Sisanya? Separuh lain Stephanie Gracia merutuki kebiasaan itu karena 'kerusakan' yang ditimbulkannya.

Khayalanku sering membuatku mager karena terlalu nyaman hidup hanya dalam angan-angan. Visualisasi kejadian yang mungkin bisa terjadi memang membuatku senang tapi jelas tidak bahagia karena itu semua tidak nyata. Yang terparah adalah bagaimana imajinasiku ini menjauhkan aku dari realita dengan senantiasa meramalkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi; saat ingin melakukan sesuatu, otakku seperti secara otomatis menunjukkan padaku skenario terburuknya. Bukan hanya tentang apa yang akan aku lakukan atau alami, pikiranku juga mendistorsi memori dengan tambahan-tambahan hal negatif. Misalnya, dulu saat SD aku berprestasi lalu kenapa sekarang aku seperti ini? Mode otomatis otakku akan mengatakan, "Pasti ada yang salah dengan cara orangtuamu atau gurumu mendidikmu saat dulu SD sehingga kamu nggak punya mentalitas yang kuat!" atau kecenderunganku yang takut menghadapi nilai jelek --padahal aku sering dengan sok cool-nya berkata "Aku nggak peduli sama nilai, toh aku memang nggak niat."-- aku hubungkan dengan 'mungkin karena sejak dulu orang-orang selalu berekspektasi kalau kamu pinter Fan makanya kamu jadi merasa terbebani dan takut mengecewakan mereka'

Jujur aku sudah sampai di titik di mana aku nggak bisa mendeteksi apakah kesimpulan yang disampaikan otakku itu benar atau salah. Aku bukan Shinichi Kudo yang dengan yakin bisa bilang kalau kebenaran itu hanya ada satu. Persetan dengan kebenaran, karena yang membuatku membenci cara otakku berpikir adalah: IA SELALU NEGATIF! Selalu menyalahkan keadaan atau orang lain, mengasihani diri-sendiri, mendramatisir kenyataan, membatasiku untuk bermimpi karena dia bilang, "Fan, selama ini kita nggak pernah bisa..." dan segala macam omongan negatif lain yang nggak bisa berhenti, yang terus-terusan ngoceh sampai-sampai aku gila karena NGGAK BISA BERPIKIR POSITIF. Kalau ada hal positif yang aku lakukan, pendorongnya jelas bukan mindset-ku yang super fucked-up ini. Paling-paling kehendak hati dan bantuan kebaikan Tuhan, dan saat (atau setelah) aku melakukan hal positif pun pikiranku akan langsung dipenuhi dengan suara-suara sumbang, "Sok baik banget sih,"; "Ngopo e koe Fan?"; "Sama aja Fan, kamu bakal tetep sampah selamanya." Gila nggak sih? Ngeri nggak sih? SEGITU NEGATIFNYA WOI ISI PIKIRANKU!



Aku nggak tau aku butuh apa buat lepas dari ini semua. Seringnya sih aku meminta mati saja karena saking lelahnya hidup dengan semua kenegatifan ini. Mungkin aku butuh Tuhan, butuh Yesus tapi aku harus bagaimana karena sesungguhnya ada sesuatu dalam diriku yang sudah terlalu putus asa... Memangnya ada jalan keluar di ujung sana? Kalaupun ada, apa yang menjamin dalam perjalanan menuju ke sana aku akan baik-baik saja dan bukannya semakin gila? Semakin gila karena melawan pikiran negatifku berarti menantangnya, saat ia tertantang ia akan mengerahkan semua tenaganya dan menjadi lebih kuat untuk menarikku jatuh, lagi... dan lagi... dan selamanya tenggelam di bawah sana.





Sementara di luar nampak baik-baik saja :)

Sunday, July 8, 2018

jadi aku semacam diam saja karena aku tidak tahu
diam saja karena aku tidak mengerti
diam saja karena aku berharap bisa tidak peduli
tapi aku terus terhantui

tolong

aku tidak bisa melihat jalan keluar lain
aku tidak ingin putus asa
namun semua tampak begitu jauh
dan aku di sini terhenti

tolong...