Thursday, April 25, 2019

[ APOLOGY: On Not Being Friend-able ]



"Jadi mungkin miskin itu dosa ya?"

Berhenti bersikap seolah kamu yang paling menderita.

"Tapi... strata sosial itu ternyata memang ada ya?"

Iya, iya ada! Ketidaksetaraan itu ada, bahkan ada indeksnya! Disparitas itu bagian dari realita...

"Pasti selama ini keberadaanku mengganggu sekali ya?"

Sudahlah...

"Pasti mereka sudah banyak menahan diri untuk tidak membuatku merasa sangat berbeda ya?"

Iya, mereka sebaik itu...

"Lalu?"

Mungkin mereka lelah?

"Aku memang setidak seru itu ya?"

Entahlah...

"Sepertinya iya, makanya aku tidak pernah punya banyak teman."

Sudahlah...

"Iya kan? Aku banyak mengeluh, tidak bisa bercanda, tidak tahu cara bersenang-senang..."

Mengeluhmu itu rasional kok dan kamu melakukannya bukan karena tidak bisa bersyukur, hanya untuk melepas stres saja kan? Kemudian kamu bukannya tidak bisa bercanda, hanya saja kamu tertawa untuk hal-hal yang berbeda dengan mayoritas orang, begitu juga caramu bersenang-senang... kamu punya caramu sendiri dan, yah, kebetulan itu (lagi-lagi) tidak sama dengan mereka.

"Tapi sama saja kan? Itu berarti... aku memang tidak cocok dijadikan kawan."

...

"Aku egois kan? Harusnya aku lebih banyak berpura-pura bahagia dan memendam keluhanku. Harusnya aku mengalah dan mencoba menertawakan yang seisi dunia tertawakan... Bersenang-senang dengan cara orang-orang normal mencari kesenangan..."

Kamu mau hidup seperti itu hanya demi orang lain menyukaimu?

"..."

 Tidak, kan? 

 

"Maaf sudah banyak mengganggu...

maaf sudah banyak membatasi kebahagiaanmu...

Maaf karena terlalu aneh dan tidak sama.

Terima kasih sudah banyak berpura-pura...

terima kasih sudah pernah banyak memaklumiku,

terima kasih sudah mengajarkan tentang perpisahan.

Selamat tinggal

Semoga aku akan segera baik-baik saja karena aku tahu kalian baik-baik saja

Aku tahu banyak hal menyenangkan sudah terjadi tidak bersamaku dan itu pasti jauh lebih baik karena ketiadaanku, kerjaku memang hanya merusak good vibes...

Aku tahu duniamu tidak berputar di sekitarku dan bahkan mungkin tidak akan pernah saling terkait lagi, atau setidaknya tidak akan seberpengaruh itu lagi...

... Maaf karena aku memang seburuk itu. Maaf sudah banyak membuang waktumu. Maaf."

.
.
.

"What hurts the most is being so close, having so much to say and watching you walk away... never knowing what could have been... and not seeing that loving you is what I was trying to do"



0 comments:

Post a Comment