Monday, July 16, 2018

Sebenarnya Aku...

Pernah nggak, merasa bingung akan satu hal; hal itu sebenarnya positif atau negatif. Misalnya kamu ambisius, di satu sisi itu positif karena membuatmu bersemangat meraih target namun di lain sisi bisa jadi negatif karena mungkin kamu bakal dimusuhi orang-orang yang iri atau merasa dirugikan dengan keambisiusanmu. Contoh lain adalah apa yang aku alami; aku sangat suka berimajinasi. Hampir setiap kejadian dalam hidupku bisa aku jadikan bahan imajinasi. Dulu di masa kecilku aku rasa hobi ini bermanfaat untuk membantuku mengerjakan tugas bahasa, mengisi waktu luang dengan menulis cerpen, atau sekadar berkhayal ini dan itu untuk mengisi waktu dan menghibur diri yang memang tidak punya banyak teman. Namun sekarang, aku terbelah. Sebagian dari diriku masih sangat mencintai kemampuan otakku berimajinasi, walau kalau dipikir-pikir satu-satunya manfaatnya yang tersisa adalah membantu memberi ide menulis saja. Sisanya? Separuh lain Stephanie Gracia merutuki kebiasaan itu karena 'kerusakan' yang ditimbulkannya.

Khayalanku sering membuatku mager karena terlalu nyaman hidup hanya dalam angan-angan. Visualisasi kejadian yang mungkin bisa terjadi memang membuatku senang tapi jelas tidak bahagia karena itu semua tidak nyata. Yang terparah adalah bagaimana imajinasiku ini menjauhkan aku dari realita dengan senantiasa meramalkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi; saat ingin melakukan sesuatu, otakku seperti secara otomatis menunjukkan padaku skenario terburuknya. Bukan hanya tentang apa yang akan aku lakukan atau alami, pikiranku juga mendistorsi memori dengan tambahan-tambahan hal negatif. Misalnya, dulu saat SD aku berprestasi lalu kenapa sekarang aku seperti ini? Mode otomatis otakku akan mengatakan, "Pasti ada yang salah dengan cara orangtuamu atau gurumu mendidikmu saat dulu SD sehingga kamu nggak punya mentalitas yang kuat!" atau kecenderunganku yang takut menghadapi nilai jelek --padahal aku sering dengan sok cool-nya berkata "Aku nggak peduli sama nilai, toh aku memang nggak niat."-- aku hubungkan dengan 'mungkin karena sejak dulu orang-orang selalu berekspektasi kalau kamu pinter Fan makanya kamu jadi merasa terbebani dan takut mengecewakan mereka'

Jujur aku sudah sampai di titik di mana aku nggak bisa mendeteksi apakah kesimpulan yang disampaikan otakku itu benar atau salah. Aku bukan Shinichi Kudo yang dengan yakin bisa bilang kalau kebenaran itu hanya ada satu. Persetan dengan kebenaran, karena yang membuatku membenci cara otakku berpikir adalah: IA SELALU NEGATIF! Selalu menyalahkan keadaan atau orang lain, mengasihani diri-sendiri, mendramatisir kenyataan, membatasiku untuk bermimpi karena dia bilang, "Fan, selama ini kita nggak pernah bisa..." dan segala macam omongan negatif lain yang nggak bisa berhenti, yang terus-terusan ngoceh sampai-sampai aku gila karena NGGAK BISA BERPIKIR POSITIF. Kalau ada hal positif yang aku lakukan, pendorongnya jelas bukan mindset-ku yang super fucked-up ini. Paling-paling kehendak hati dan bantuan kebaikan Tuhan, dan saat (atau setelah) aku melakukan hal positif pun pikiranku akan langsung dipenuhi dengan suara-suara sumbang, "Sok baik banget sih,"; "Ngopo e koe Fan?"; "Sama aja Fan, kamu bakal tetep sampah selamanya." Gila nggak sih? Ngeri nggak sih? SEGITU NEGATIFNYA WOI ISI PIKIRANKU!



Aku nggak tau aku butuh apa buat lepas dari ini semua. Seringnya sih aku meminta mati saja karena saking lelahnya hidup dengan semua kenegatifan ini. Mungkin aku butuh Tuhan, butuh Yesus tapi aku harus bagaimana karena sesungguhnya ada sesuatu dalam diriku yang sudah terlalu putus asa... Memangnya ada jalan keluar di ujung sana? Kalaupun ada, apa yang menjamin dalam perjalanan menuju ke sana aku akan baik-baik saja dan bukannya semakin gila? Semakin gila karena melawan pikiran negatifku berarti menantangnya, saat ia tertantang ia akan mengerahkan semua tenaganya dan menjadi lebih kuat untuk menarikku jatuh, lagi... dan lagi... dan selamanya tenggelam di bawah sana.





Sementara di luar nampak baik-baik saja :)

0 comments:

Post a Comment