Curcol sebentar tentang 'view' di dua tulisan sebelumnya. Tulisan tentang Tinder mengundang 46 pembaca, terbanyak sepanjang sejarah blogging sejak SMP (segitu tidak ada kemajuannya lah karir menulis ini, pemirsa..) Tulisan seminggu yang lalu 'hanya' mendatangkan 10 pembaca, mungkin karena memang judulnya tidak sekontroversial si Tinder.
Yang jadi poin di sini adalah: Kenapa penulis jadi memikirkan itu sih? Setelah 6 tahun perjalanan blogging yang tidak ada progres, kenapa tiba-tiba (sebenarnya tidak sebegitu mendadak juga) jadi memusingkan jumlah 'view' seolah youtuber atau kaum pengumpul (dan pengkhawatir) viewer Snapgram?
Jawabannya tidak sepanjang ujian Airline Knowledge 2 yang minimal 1/2 halaman per nomor kok; pencerahan ini didapat dari Kak Adis, head editor IGNITE GKI yang menjadi pemateri workshop "Digital Ministry" di GKI Gejayan chapter The Grace Hartono (kenapa berasa Yamie Panda yak chapter-chapter) awal bulan Desember lalu.
https://www.instagram.com/p/BrE2cKaFrs4/
Emang sih kita nulis suka-suka kita, ekspresi diri, nggak mikirin orang lain suka atau nggak TAPI... tapi jumlah pembaca bisa jadi tolok ukur sebagus apa tulisan kita dan bukankah semakin banyak yang membaca maka pesan baik yang kita ingin sampaikan bisa semakin tersebar. Dan... coba evaluasi diri, apakah kita memang nggak butuh banyak pembaca murni karena nggak mencari popularitas atau sebenarnya malas memperbaiki skill menulis?
Yhaaa... mengena banget sih :") like, I've been searching for a reason to actually 'grow' more as a writer and finally found it through her, thank you Kak <3
So... yes, I have a plan about my whole writing journey ahead, we all know I'm usually a trash at making promises about getting serious with writing thingy but let's hope for the best! 🤣🤣🤣


0 comments:
Post a Comment