Setelah lagi-lagi harus menelusuri terowongan gelap yang panjang selama kurang lebih dua bulan, aku akhirnya sampai di ujung ketika cahaya mulai terlihat sedikit demi sedikit.
Kemudian aku berpikir, mungkin di masa-masa kelam itu biji bunga matahari hanya sedang berjuang untuk tumbuh di dalam tanah yang gelap. Mungkin air mataku menjadi air yang menyiraminya. Lalu bunganya akan mekar. Bunga matahari itu memampukanku melihat dunia dengan cerah ceria, mungkin untuk beberapa lama sampai ia layu, mengering, dan biji-bijinya perlu berdiam dalam gelap lagi. Terus berputar seperti itu. Tak apa, selama masih ada biji bunga matahari, aku tahu aku bisa bertahan dan berharap, Tuhan akan memberinya pertumbuhan. Tuhan akan memberiku kekuatan dan penghiburan.
Jadi jangan menyerah, kawan. Jika saat ini semuanya terasa begitu berat dan kamu kesulitan melihat secercah cahaya, ingatlah, biji bunga mataharimu sedang berusaha keras menerobos gelapnya tanah untuk memberimu setangkai, bukan, bertangkai-tangkai bunga matahari kuning yang cerah dan bahagia. Bersabarlah, bertahanlah, kamu tidak sendirian. Ada yang sedang berjuang bersamamu, masih ada biji bunga matahari.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete