Diksi
Membaca adalah sesuatu yang nikmat untuk dilakukan. Ia adalah salah satu katarsis ketidakwarasan. Namun belakangan ini aku bukan pembaca yang sabar, tak terhitung lagi berapa kali aku meninggalkan bacaan di tengah jalan enggan merampungkan. Semua yang kubaca entah itu novel, artikel di situs, caption Instagram, sampai chat WA, seolah menanyakan hal yang sama,
"Kamu sedang membaca tulisan, kamu bisa nggak nulis kayak gini?"
atau terkadang sedikit dengan bumbu 'nyinyir' seperti ini,
"Mana yang katanya suka nulis? Mana yang katanya mau jadi penulis?"
Pertanyaan-pertanyaan itu kubalas dengan sebuah alasan, "Aku benci diksiku."
Ya, aku benci pemilihan kataku. Aku selalu merasa tulisan-tulisanku membosankan dengan diksi yang diulang-ulang. Kemudian saat aku membaca tulisan orang lain, aku merasa rendah diri. Semakin aku rendah diri, semakin aku enggan menulis. Semakin aku enggan menulis, semakin aku terhantui saat membaca. Dan siklus itu terus berputar mengkerdilkan aku dan mimpiku.
Inikah yang disebut "menggali liang kubur sendiri"?
Krisis Seperempat Kehidupan
Bukan negara ini saja yang sedang dilanda krisis, kami para "98 liners" nampaknya juga sedang menghadapi krisis yang sama: krisis seperempat kehidupan alias quarter life crisis, aren't we guys?
Isi otak di tiga minggu terakhir ini tak pernah jauh dari K E K H A W A T I R A N . . .
- Skripsi gimana?
- Besok mau kerja apa?
- UGM tapi kok gini sih...
- Duh temen-temen kayanya lebih bla bla bla deh...
- Belum pernah menghasilkan uang sendiri ya...
- Duh harus hemat!
- Duh udah mau 21 tahun tapi masih kusam dan tidak glow up
- Gendut :((((
- Pengen update outfit...
- Kok belum pernah travelling ke sana sini ya?
- Belum pernah nonton konser Kpop
- D U H ! Ngapain aja sih aku selama ini?!?!?!
- Nulis?!
- Beli buku?!
- ARRRRRGHHHHHHHHHHHHHH
Tidak ingin menyesali keputusan di masa lalu tapi kok... kok gini doang ya hidupku? :) Eh tapi iya kah 'gini doang'? Apa sih parameter 'gini doang'? Bukannya asal masih hidup, sehat, bisa makan, tidur enak, punya orang yang sayang sama kita, itu udah cukup ya?
Tapi kalau aku seperti ini terus... apakah aku akan bisa lulus tepat waktu?
Beberapa orang yang ingin menghibur orang lain akan berkata, "Tidak ada yang namanya lulus tepat waktu, karena waktu yang tepat bagi setiap orang berbeda-beda."
Ah bullshit
Lalu apa definisi "tepat waktu" bagimu sendiri, Fan?
Tidak terlambat... tidak sampai ada orang yang mempertanyakan kenapa aku belum lulus.
Parametermu orang lain ya?
Iya...
dan ego... dan gengsi...
Iya...
tapi?
Tapi aku sedih harus bekerja dengan dorongan tiga hal itu, sebegitunya kah aku?
kamu pengennya?
Pengennya ya semangat karena punya tujuan bukan tekanan... berjuang karena keinginan diri-sendiri bukan ekspektasi orang lain... dan melakukan itu dengan rendah hati tanpa peduli ego dan gengsi.
kamu selalu sadar diri kalau kamu sombong...
Iya...
tapi keras kepala untuk tetap sombong...
Iya...karena sombong itu mudah, rendah hati yang sulit
Oke sekarang gimana kalau kita ubah cara berpikirnya? Kita fokus pada usaha mengesampingkan ego dan gengsi, tidak usah pakai diksi 'sombong' dan 'rendah hati'.
Boleh...
Oke kita lihat ya sampai postingan selanjutnya, dah!




0 comments:
Post a Comment