Saturday, March 30, 2019

Jangan Meminta Tolong

Tidak mudah tapi tetap bersembunyi saja lah... tidak usah mengharap orang lain peduli

Lagipula mau apa kalau mereka datang? Paling-paling kamu hanya akan membuat mereka jengah lalu kembali pergi... seperti yang selalu terjadi

Mungkin beberapa orang terlahir untuk menerima banyak cinta

sebagian lainnya mendapat banyak kebencian

dan beberapa persen sisanya hanya tembus pandang tidak terlihat,

begitu mudah ditinggalkan dan dilupakan.

Anehnya mereka adalah orang-orang yang terlihat paling kuat

karena terbiasa menghadapi segala sesuatunya... seorang diri



Buat apa sih hidup?

Begini-begini saja... tidak bermakna

karena aku tidak berguna

maaf karena masih tetap sama;

ingin mati saja



Wednesday, March 6, 2019

Yang Masih Saja

Hari-hari yang sulit. Hari-hari yang menyebalkan. Hari-hari penuh pertanyaan dan keraguan. Ah, masih berlanjut saja. Masih sulit, masih tidak mengerti apakah ini aku atau hanya setumpuk koleksi topeng yang dipakai bergantian. Hanya beberapa inci dari jurang kehancuran, lagi-lagi. Lagu-lagu sedih, lagu-lagu bermakna mendalam, butuh suntikan dopamin, butuh suntikan endorphin, butuh sesuatu yang membahagiakan. Jaga aku dari kegilaan, sudah terlalu dekat, sudah. terlalu. dekat.

Ingin hilang ingatan dan mati rasa. Serius. Saat ini aku tidak tahu siapa aku. Tidak tahu apakah aku sedang jujur dengan diri-sendiri. Setiap kali sadar bahwa aku masih hidup, bukannya mati, masih ada dan bukan tiada, aku selalu bingung harus berbuat apa. Kakiku seolah berpijak pada alas yang tak menentu dan aku hanya berusaha menyeimbangkan beban tubuhku di atasnya. Untuk kesekian kali; apakah ini hidup atau hanya bertahan hidup?


Mata kuliah semester 6 ini menggerus sel-sel kewarasan. Seminar proposal skripsi, ternyata sudah sejauh ini aku berkuliah, kalau aku cukup pintar, aku bisa lulus 3,5 tahun! Dan kemudian otakku berisik dengan perandaian negatifnya; bahwa aku tidak akan bisa, bahwa aku sudah tertinggal langkah dari orang-orang, dan mustahil aku bisa lulus cepat. Aku benci ini semua but it consumes me somehow dan aku sedang stuck dengan proposalku makanya jadi menulis di sini.

Menjadi aneh pun aku sudah tidak tertarik. Menjadi normal juga tidak. Hanya ingin menjadi tak ada. Paling ingin menjadi kasat mata lalu lenyap adanya.

Masih saja putus asa :)

Monday, December 24, 2018

2018 Songs of The Year


It's already that time of the year! Here's the boring list of Stephanie Gracia's Song(s) of The Year 2018!

I'm forcing myself to make this anyway because it's the only thing I write consistently since 2014! LOL so proud  🤣  I want to continue it no matter how difficult it is to decide the songs and to write the long long list 🤣 I'm gonna back to the old format with only top 10 songs, writing 20 like last year was crazy 🤣

I'm trying my best to set aside good old songs I like to listen throughout this year and stick only with 2018 released songs. Let's start the ride!


Sunday, December 23, 2018

[ Hopefully a Stepping Point ]

UAS berakhir! Selamat Anda sudah melalui semester 5 yang katanya 'life crisis' anak angkatan 2016 di tahun ini ha ha...

Curcol sebentar tentang 'view' di dua tulisan sebelumnya. Tulisan tentang Tinder mengundang 46 pembaca, terbanyak sepanjang sejarah blogging sejak SMP (segitu tidak ada kemajuannya lah karir menulis ini, pemirsa..) Tulisan seminggu yang lalu 'hanya' mendatangkan 10 pembaca, mungkin karena memang judulnya tidak sekontroversial si Tinder.

Yang jadi poin di sini adalah: Kenapa penulis jadi memikirkan itu sih? Setelah 6 tahun perjalanan blogging yang tidak ada progres, kenapa tiba-tiba (sebenarnya tidak sebegitu mendadak juga) jadi memusingkan jumlah 'view' seolah youtuber atau kaum pengumpul (dan pengkhawatir) viewer Snapgram?

Jawabannya tidak sepanjang ujian Airline Knowledge 2 yang minimal 1/2 halaman per nomor kok; pencerahan ini didapat dari Kak Adis, head editor IGNITE GKI yang menjadi pemateri workshop "Digital Ministry" di GKI Gejayan chapter The Grace Hartono (kenapa berasa Yamie Panda yak chapter-chapter) awal bulan Desember lalu.


 https://www.instagram.com/p/BrE2cKaFrs4/

Kak Adis (yang di depan, ke-4 dari kiri) semacem bilang kalau...

Emang sih kita nulis suka-suka kita, ekspresi diri, nggak mikirin orang lain suka atau nggak TAPI... tapi jumlah pembaca bisa jadi tolok ukur sebagus apa tulisan kita dan bukankah semakin banyak yang membaca maka pesan baik yang kita ingin sampaikan bisa semakin tersebar. Dan... coba evaluasi diri, apakah kita memang nggak butuh banyak pembaca murni karena nggak mencari popularitas atau sebenarnya malas memperbaiki skill menulis? 

Yhaaa... mengena banget sih :")  like, I've been searching for a reason to actually 'grow' more as a writer and finally found it through her, thank you Kak <3

So... yes, I have a plan about my whole writing journey ahead, we all know I'm usually a trash at making promises about getting serious with writing thingy but let's hope for the best! 🤣🤣🤣

Friday, December 14, 2018

2018 dan Sebuah Pelajaran #1

Hai! Malam Sabtu, sehabis hujan mengguyur ringan, di ruang belajar depan ruangan Sr. Mariyati, siap menerjemahkan hasil copy-paste berbahasa Inggris ke Bahasa Indonesia demi terselesaikannya UAS take home F&B Management. Hah... malam panjang lainnya, Fan? Kenapa kamu setenang ini padahal di 'dalam sana' ada badai berkecamuk? Tidak, sebenarnya tidak setenang itu, makanya lari ke sini untuk meluapkannya.

This year have been crazy, if not craziest among all the years lived consciously (karena pas bayi sampe umur berapa gitu diitung unconscious LOL)

Crazy because? Karena Tuhan bekerja melebihi semua yang bisa terpikirkan. Benar-benar mengalami yang ditulis Paulus dalam Efesus 3:20

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.

Tidak ingat dalam kesempatan apa Mama membagikan ayat melalui chat pribadi di WA,  awalnya juga tidak banyak peduli dengan ayat  tersebut tapi apa yang terjadi sepanjang tahun ini seperti bukti bahwa Tuhan memang mampu melakukan jauh lebih dari apa yang sanggup dipikirkan bahkan doakan. Rencana-Nya sungguh melampaui akal manusia, benar-benar dahsyat.

Memang sering sebagai manusia terpikirkan ini dan itu, memimpikan ini dan itu, otak penuh khayalan ini dan itu yang tentu saja indah menurut ukuran manusia. Mencapai ini dan itu, bisa melakukan ini dan itu, bahkan terkadang ada imajinasi di dalam imajinasi di mana diri dalam imajinasi itu juga sedang berimajinasi (apa sih woi) dan apalah diri ini, yang terlalu sering dikecewakan oleh harapannya sendiri; gagal berkali-kali, ditolak berulang kali sampai merasa tidak berharga bahkan berasa sampah.

Namun kemudian Tuhan menunjukkan bahwa Ia sedang mengerjakan sesuatu, Dia punya road map yang seringnya ingin dipercepat saja langsung ke hasil padahal ada proses menuju ke sana. Tuhan punya rencana di balik setiap kejatuhan yang Ia izinkan terjadi. Tuhan punya rencana di balik setiap rasa sakit yang harus dilalui. Tuhan punya rencana setiap kali Ia merendahkan kita serendah-rendahnya sampai kita merasa tidak punya suatu apapun lagi... God, is doing something in our life. Sesuatu yang melebihi apa yang kita bisa harapkan.

Ditolak berkali-kali setiap mendaftar organisasi atau kepanitiaan? Jujur itu sesuatu yang teramat sangat menjatuhkan mental (yang dari sononya juga sudah tidak sebaja itu, lebih mirip tempe). Dari SMA sampai kuliah lho, entah udah berapa kali tersisih dari yang namanya open recruitment. Sampai rasanya udah nggak mau peduli lagi, mau jadi apatis aja, bawaannya jadi rendah diri dan pesimis, mau mencoba sesuatu yang baru udah takut ketolak duluan.

But you know what?

Tahun ini Tuhan mengizinkan untuk bahkan tidak perlu melewati proses pendaftaran, Ia izinkan untuk langsung dimintai tolong menjadi Kepala Divisi. Gila kan? Pernah terpikirkan? Tidak sama sekali...

tapi apakah itu 'akhir'? Bukan, dalam perjalanan sebagai Kadiv Litbang Himapa, Tuhan menunjukkan bahwa selama ini, alasan kenapa terus saja tertolak ya memang karena masih ada sangat banyak kekurangan. Leadership kurang, masih moody, cepat marah, berpikiran negatif, tidak suka bersosialisasi, terlalu panik menghadapi ini itu... dan rentetan kekurangan lain. Tuhan seperti memberitahuku, "Seandainya sebelum ini kamu diterima di sana-sini, kamu belum siap dan hanya akan stres dan terus menyalahkan diri-sendiri lalu menyerah dan benar-benar tidak mau lagi terlibat lalu menutup diri... terpuruk sendiri." -- Dia benar, dan itu sangat patut disyukuri... Mana pernah sebelumnya terlintas pikiran seperti itu. Biasanya hanya bisa menyalahkan Tuhan dan diri-sendiri padahal ternyata ada rencana yang lebih di balik itu semua.

Tulisan ini hanya secuil kecil pelajaran yang Tuhan berikan di tahun 2018 yang sedang berjalan mendekati garis akhir. Sebuah pelajaran tentang pengharapan, kerendahan hati, dan keberserahan diri karena...



https://twitter.com/dmrmlindsay/status/678204448666091520


Ditunggu keseloan (dan kenekatan) selanjutnya untuk menyisihkan UAS lari ke blog! <3







Thursday, December 6, 2018

Tentang Match Made in Tinder dan Sekitarnya

Masih paling baik dalam menuliskan yang tidak terarah, huh? Kapan mau maju? Ya sudah, semoga ini yang terakhir. Ada perasaan dan gejolak yang butuh dituangkan dalam kalimat ke kalimat, untuk dikenang pada suatu masa ketika semoga saja, semua sudah settled and I'm a lot of better. 

Photo by Element5 Digital on Unsplash
-
 Ini tentang pertemuan-pertemuan yang semu, yang fana dan tidak akan berlangsung lama. We are just match(es) made in Tinder anyway. Match(es) and not match, made (only) in Tinder and not heaven. 
 -
Ini tentang atmosfer biru di penghujung tahun ketika hari-hari mulai dikelamkan oleh awan gelap dan udara dingin sehabis hujan. Bukan waktu yang tepat untuk memusingkan diri dengan rutinitas menjemukan seperti ujian akhir, bukankah waktu-waktu seperti ini sempurna menjadi latar kisah romansa (yang agak-agak tragis atau mellow)?
 -
Seperti...
Pergi membeli kado natal seorang diri di Mirota Kampus lalu melihat sepasang kekasih membeli hiasan pohon natal bersama, lalu sadar bahwa ini sudah (atau baru?) natal ke-20ku dan aku masih jomblo.

Jomblo, 'hanya' jomblo kok, bukan sendiri. Syukurlah natal masih menjadi hari raya paling ramai dan hangat buatku; keluarga dan teman-teman -- fiuuh, ada celah untuk mengurangi kadar kesedihan atas status yang masih betah bertahan ini.
 -
Bagaimana jika kusambung dengan cerita di titik start KKN-ku? Hendak pulang tanpa jas hujan padahal hujan sedang turun lalu seseorang berkata, "Jangan lah,"... yang membuat pikiran jadi pergi ke mana-mana. Bukan, bukan soal yang melarang, hanya saja tiba-tiba sedikit belajar tentang, "Oh seperti ini toh perhatiannya seorang cowok?" Kalau benar seperti ini, sepertinya sangat menyenangkan untuk segera bertemu, lalu menerima perlakuan seperti itu setiap hari.

Aku malam itu, di kursi kayu yang tidak sebegitu nyaman, sebenarnya ingin membela diri, "Nggak pa pa, aku suka hujan-hujanan," namun yang kulakukan hanya menengadah ke langit-langit SS Pandega sambil tersenyum, menenangkan batinku dalam bisikan, "Sudahlah, nikmati saja kepedulian orang lain."
 -
Dan kemudian tentang chat di aplikasi mencari jodoh itu. Aku tahu kami sama-sama tidak serius. Menginstall Tinder hanya saat butuh teman bicara lalu ya sudah, tidak ada apa-apa.

Sejujurnya aku takut, ingin berhenti sebelum jatuh terpeleset karena bermain-main terlalu jauh. Tapi gombalan cerdasnya membuatku tertawa, jenis tawa yang sudah lama tidak keluar dari mulut (atau perut?) ku dan aku berterimakasih untuk itu.

Mungkin lebih dari sekadar 'berterimakasih' karena kutemukan diri yang terus berupaya agar pembicaraan itu berlanjut, walau jelas-jelas dia bukan orangnya. Penghalangnya terlalu tinggi, dan aku bukan hot singles makanya dia kira Spotify-nya rusak. Aku cold. And he's so out of my league, too smart, too high. 

Aku rasa sepenggal lirik lagu Adhitia Sofyan berjudul 'September' ini cukup bisa melukiskan isi hati dan pikiran setiap kali logo berbentuk api itu muncul di notifikasi beberapa hari terakhir;

Still I wonder if I could stay for a while
You see, its been a while since I felt this way
But, we both now time is closing in
Till I'll be gone, and you'll be too

Photo by Milada Vigerova on Unsplash

Jangan khawatir, aku baik-baik saja, semua ini hanya akumulasi dari cuaca yang mendukung kegalauan dan serangkaian kejadian yang terus membuatku ingin bertanya dan bertanya; kapan?

Hei hujan, kamu kan sudah punya banyak teman untuk jatuh, jangan ajak-ajak aku dong, kumohon. Ajaklah lain waktu saat aku sudah siap dan orangnya sudah tepat. 

-

Ah, aku lelah. Memikirkan ujian take home membuatku hampir gila, sama sekali tidak ingin mengerjakannya... Lalu dapat nilai dari mana?! Kumohon cepatlah sadar. Waktu tidak menunggumu, jangan ulang kesalahan!

Wednesday, November 14, 2018

Aku Tidak Sembuh

Aku tidak sembuh, dari penyakit entah malas atau depresi(f) yang telah lama menggerogoti sendi-sendi semangat hidupku...

Ternyata memang benar, kesedihan adalah teman yang setia. Untuk apa kita bahagia? Percayalah, hanya kekecewaan yang akan datang mengiringinya...

Karena saat kita bahagia, ada ekspektasi tentang ini atau itu yang akan ikut membaik

"Tersenyumlah maka dunia akan tersenyum kembali padamu,"

untuk apa, sih, kata-kata kosong seperti itu?

Tidak banyak yang berubah setelah aku berbahagia seminggu-dua minggu ini...

at the end of the day, I'm still the same tired girl questioning if life's worth while

and maybe it's not, right?

Looking at my stagnant progress, I in fact haven't made that much improvements this year

I was just lying to myself, tried to convince her that she's fine now, all bright and hopeful

it's still shitful like it always was Fan, wake up

Kamu kira kenapa begitu sulit untuk bangun dari tidurmu? -- kamu tidak punya alasan kan untuk hidup?

tidak ada yang ingin dilakukan, ingin tidur saja...

ingin bersembunyi, kamu teringat dunia di luar sana begitu berisik

B E R I S I K bukan?

Saat setiap hari kamu harus mengayuh pedal sepeda hijaumu pergi ke sana ke mari dan di jalan mobil-mobil memainkan simfoni klakson ketidaksabaran. Dasar manusia-manusia serakah! Apakah kurang nyaman berkendara dalam dinginnya temperatur AC? Tidak bisakah bersabar sedikit? Kami berpanas-panasan di luar sini! 

Setiap hari melangkahkan kaki tergesa ke ruang kelas karena lagi-lagi terlambat, sementara orang-orang di seputaran kampus yang bahkan tidak berkata apa-apa tapi kenapa begitu ramai? Jangan benci atau anggap aku aneh... 

Lalu kamu duduk di kursi itu, mendengarkan entah apa, menulis entah apa, memirkan entah apa. Sukses dan gelimang harta? Sukses dan kemampuan mengaplikasikan ilmu? Untuk apa kuliah kalau hanya akan jadi seonggok KEGAGALAN? Kamu ga ga l kamu ga ga l ka mu ada la h keg ag  alan.

Aku ingin mati saja

 pic source: https://id.pinterest.com/pin/412994228313244651/


Belum kusebutkan tentang serangan panik kecil yang mendera setiap kali hujan selesai turun dan aku melihat suasana yang terasa begitu familiar tapi membuatku membenci saat ini. Aroma tanah, langit mendung, dunia berpalet warna suram dan mata yang menangkap suatu sudut kota -- dan aku ingin kembali ke entah mana lalu membekukan waktu agar tak berputar maju ke neraka yang sama ;