Sensitif dengan suasana, bahkan cuaca dan aroma. Sudah September, menjelang akhir tahun dan vibe-nya yang selalu aku suka, tapi mendung dan anggukan daun-daun di luar jendela asrama membawaku pada masa-masa yang lama. Aku tidak ingat persis apa yang membuatku merasakan gelitikan-gelitikan kecil ketakutan beberapa hari ini setiap kali langit mulai mengabu dan hembusan angin siang hari terasa dingin. Ada kilasan memori masa kecil yang melintas dalam benak namun aku belum mampu menangkap dengan jelas apa yang aku takutkan.
Atau mungkin aku hanya takut untuk merindu. Enggan mengenang masa lalu yang 'aman', aman karena sudah berlalu, aman karena saat itu aku belum mengenal dunia dan lebih banyak kebusukannya, aman karena versi kecil dari diriku itu masih begitu polos dan tak banyak terluka. Mengingatnya hanya akan membuatku sedih dan ingin kembali... Walaupun di sisi lain, aku seharusnya bahagia memiliki masa kecil yang sedemikian indahnya sampai-sampai aku ingin memutar kembali waktu.
Iya ya, dulu aku bahagia. Masa kecilku memang bukan masa yang aku lalui dengan kisah-kisah indah kedekatan dengan orangtua, kami tidak jauh -- tapi juga tak terlalu erat. Masa kecilku penuh dengan tangisan dan kemarahan -- emosional dan sensitif sejak dini haha. Masa kecilku banyak diisi dengan khayalan-khayalan: pesta ulang tahun bersama boneka-boneka, obrolan-obrolan tentang masa depan dan kesuksesan bersama Piyo-piyo, tulisan, gambar, rekaman suara, dan kerajinan tangan sebagai sarana meluapkan ide-ide yang tiada berhenti mengalir. Overthinking juga dimulai sejak dini!
Mungkin sekarang aku takut setiap kali sebuah sudut bangunan yang aku lalui di jalan mengingatkanku pada jalanan yang aku lintasi di suatu siang saat aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Aku bergidik ngeri manakala warna langit dan temperatur udara yang aku rasakan kini mirip dengan yang kerap aku alami di usiaku yang ke-9 ketika mengantarkan Cicik les piano. Aku takut karena aku ingin kembali atau justru karena menyadari bahwa aku masih aku yang sama...
Aku ingin kembali karena dalam waktu sebulan lagi usiaku bukan hanya dua digit lagi tapi sudah berkepala dua, padahal jiwa di dalam diriku masih ingin bersenang-senang dalam imajinasi dan potongan kertas kreativitas. Kakiku masih suka melompat-lompat tak ingin menyembunyikan saat diri bahagia. Air mataku masih suka berlaku jujur -- menangis begitu saja saat diri berduka. Pikiranku masih cinta berkelana memikirkan ini dan itu lalu tertawa, sementara kakiku tetap tak rindu berkelana menjelajah. Aku masih mencintai rumahku, orang-orang yang familiar, musik-musik yang sama, pedestrian yang biasa aku pijak, rumah makan yang itu-itu saja...
Aku belum mendewasa, masih begitu ceroboh dan kekanakan. Aku tidak siap untuk dunia, aku tidak ingin kehilangan kehangatan rumah dan lingkar kecil persahabatan.
Saat 16 Oktober 2018 tiba, bisakah keajaiban terjadi dan bukannya bertambah tapi usiaku justru berkurang? Selamat ulang tahun yang ke-18 dan bukannya ke-20?
.
.
.
*hanya bermaksud menelusuri alasan belakangan ini aku sensitif dengan cuaca dan sudut-sudut kota, ternyata menuliskannya membuatku sadar; anak kecil di dalam diriku sedang dilanda ketakutan menjelang pertambahan usia :") Semangat Fan! Keep on praying and read His words~ don't be afraid :) semua akan baik-baik saja, have faith, little fighter!
Sunday, September 2, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment