Friday, September 14, 2018

Retret Kampus Nasional Navigator 2018


“Hancurkan saja Fani sekali lagi Tuhan, jika itu berarti akan lebih mudah bagi-Mu untuk membentukku.”

Ide ini terus terngiang di benakku semenjak RKN kemarin berakhir. Beberapa teman menceritakan pengalaman orang-orang lain yang dulu hidupnya begitu hancur kemudian diubahkan ketika bertemu Yesus. Seorang teman lalu menyampaikan bahwa memang lebih mudah bagi seseorang yang hancur untuk dibentuk, kita yang terbiasa hidup nyaman cenderung penuh dengan kepalsuan sehingga sulit untuk diubahkan. 

Saat aku mendengar hal tersebut aku di dalam hati menyetujuinya dan mengingat entah berapa kali Tuhan sudah mengizinkan aku jatuh terpuruk selama lima tahun belakangan ini. Untuk kedaginganku, ke’aku’anku, semua itu adalah bencana bahkan rencana Tuhan yang begitu tega dan tidak baik. Aku berulangkali mempertanyakan dan menyalahkan-Nya. “Kenapa sih Tuhan?” dan pada akhirnya mungkin aku belum benar-benar terbentuk. Kemarahanku membuatku gagal melihat rencana Tuhan di balik kehancuran yang Ia izinkan untuk terjadi. 

Ketidakmampuanku untuk melihat rencana-Nya adalah juga karena baik kejadian-kejadian yang terjadi di luar diriku maupun dosa-dosa yang dengan sadar aku lakukan, ‘penghancuran’ yang aku alami seringkali diintervensi oleh Iblis. Ia membuatku berpikir bahwa aku tidak pantas lagi untuk digunakan oleh Tuhan menjadi pekerjanya. Aku begitu penuh dengan kemunafikan. Dosa-dosaku begitu mengikatku dan menarikku ke bawah, menjauhkan aku dari rancangan-Nya yang sesungguhnya. Akhirnya aku pun bertanya-tanya, “Apakah Tuhan masih mau memakaiku?” karena aku merasa begitu hina dan tidak layak, munafik dan palsu. 

Aku juga begitu penuh dengan ‘aku’. Hidup ini bukan tentang diri kita sendiri dan ketika kita terlalu berfokus pada diri-sendiri, penderitaan dan keuntungan diri, menjadi sulit bagi kita untuk melihat rencana Tuhan. Keterpurukan dan permasalahan hidup yang aku alami membuatku hanya terpaku pada penderitaanku, aku jadi suka mengasihani diri dan merasa sebagai orang yang paling merana di muka bumi. Akibatnya, aku kehilangan kemampuan untuk memedulikan sesama, “Untuk apa peduli? Aku LEBIH menderita!” pekik kesombongan dalam diri. Kemudian seperti siklus setan yang tiada henti, aku merasa berdosa (sombong, egois) dan semakin merasa tidak mungkin untuk Tuhan pakai.
Imanku mengamini bahwa bukanlah suatu kebetulan aku bisa mengikuti RKN kemarin. Aku bisa ikut bukan sekadar karena kebetulan lokasi retretnya dekat dan bahkan satu kompleks dengan asrama tempatku tinggal di Yogyakarta. Aku bisa ikut bukan pula karena gabut nggak ada kesibukan lain seperti ospek atau magang atau KKN. Aku bahkan mengimani bahwa keikutsertaanku adalah bagian dari jawaban Tuhan atas doa-doaku di bulan-bulan terakhir ini ketika aku merasa begitu jauh dari-Nya dan tidak layak di hadapan-Nya. “Tuhan masih mau pakai aku nggak sih? Kalau iya kenapa Tuhan biarkan aku seperti ini? Tolongin Fani dong,” kira-kira seperti itulah isi doaku, yang tidak aku doakan dengan sikap yang benar, hanya teriakan emosional di dalam hati. 

Terimakasih Tuhan, yang tidak menyerah dan tetap mencariku, menerima, dan mengampuniku. Mungkin seperti itulah hal terpenting yang aku dapat dari RKN; Tuhan masih mau memakaiku, panggilan-Nya masih sama, janji-janji-Nya masih berlaku karena aku pun adalah anak Abraham. Luar biasa memang, seluar biasa itu memang Tuhan kita. I’m beyond blessed and grateful. 

Selanjutnya adalah kisah-kisah lain di luar hal tersebut di atas. Yang paling seru untuk dibahas sudah jelas adalah perihal pasangan hidup (PH). Sejak awal RKN, tanpa kami (para peserta) meminta atau bagaimana, para staff Navigator sudah membicarakan hal-hal yang ‘menjurus’ ke sana, “Nikmati retretnya, siapa tahu menemukan yang mau didoakan untuk jadi pasangan,” ya kurang lebih seperti itulah. Heol, tolong Om, ini retret pertama yang aku berkomitmen buat nggak cari jodoh! Kenapa malah disarankan LOL... dan ya mau bagaimana lagi, karena PH menjadi pokok bahasan yang walaupun bukan utama tapi memang difavoritkan siapa saja (HAHA), aku pun jadi ikut terjerumus wkwkwkw... 

Entah itu melihat-lihat apakah ada orang-orang lain yang terlibat ‘cinlok’? Mengagumi pasangan-pasangan Navigator (yang keduanya alumni Nav, dipersatukan setelah melalui proses saling mendoakan) sementara juga sibuk menasihati hati untuk tidak jatuh karena aku ingin terlebih dahulu mendoakan kriteria PH-ku, dengan hati yang murni bukan hati yang baper :”) I’m done falling in love, God. Let me fall on You instead whilst praying for a good husband until he come along saying he’d prayed for me. 



(lanjut nulis sebulan lebih setelah RKN lol)

Well, till now still having a major struggle behaving my heart :((( dan... seperti yang aku takutkan, begitu aku 'keluar ke luar', kembali ke realita hidup sehari-hari...



0 comments:

Post a Comment