“Hancurkan
saja Fani sekali lagi Tuhan, jika itu berarti akan lebih mudah bagi-Mu untuk
membentukku.”
Ide
ini terus terngiang di benakku semenjak RKN kemarin berakhir. Beberapa teman
menceritakan pengalaman orang-orang lain yang dulu hidupnya begitu hancur
kemudian diubahkan ketika bertemu Yesus. Seorang teman lalu menyampaikan bahwa
memang lebih mudah bagi seseorang yang hancur untuk dibentuk, kita yang
terbiasa hidup nyaman cenderung penuh dengan kepalsuan sehingga sulit untuk
diubahkan.
Saat
aku mendengar hal tersebut aku di dalam hati menyetujuinya dan mengingat entah
berapa kali Tuhan sudah mengizinkan aku jatuh terpuruk selama lima tahun
belakangan ini. Untuk kedaginganku, ke’aku’anku, semua itu adalah bencana
bahkan rencana Tuhan yang begitu tega dan tidak baik. Aku berulangkali
mempertanyakan dan menyalahkan-Nya. “Kenapa
sih Tuhan?” dan pada akhirnya mungkin aku belum benar-benar terbentuk.
Kemarahanku membuatku gagal melihat rencana Tuhan di balik kehancuran yang Ia
izinkan untuk terjadi.
Ketidakmampuanku
untuk melihat rencana-Nya adalah juga karena baik kejadian-kejadian yang
terjadi di luar diriku maupun dosa-dosa yang dengan sadar aku lakukan,
‘penghancuran’ yang aku alami seringkali diintervensi oleh Iblis. Ia membuatku
berpikir bahwa aku tidak pantas lagi untuk digunakan oleh Tuhan menjadi
pekerjanya. Aku begitu penuh dengan kemunafikan. Dosa-dosaku begitu mengikatku
dan menarikku ke bawah, menjauhkan aku dari rancangan-Nya yang sesungguhnya.
Akhirnya aku pun bertanya-tanya, “Apakah Tuhan masih mau memakaiku?” karena aku
merasa begitu hina dan tidak layak, munafik dan palsu.
Aku
juga begitu penuh dengan ‘aku’. Hidup ini bukan tentang diri kita sendiri dan
ketika kita terlalu berfokus pada diri-sendiri, penderitaan dan keuntungan
diri, menjadi sulit bagi kita untuk melihat rencana Tuhan. Keterpurukan dan
permasalahan hidup yang aku alami membuatku hanya terpaku pada penderitaanku,
aku jadi suka mengasihani diri dan merasa sebagai orang yang paling merana di
muka bumi. Akibatnya, aku kehilangan kemampuan untuk memedulikan sesama, “Untuk apa peduli? Aku LEBIH menderita!” pekik
kesombongan dalam diri. Kemudian seperti siklus setan yang tiada henti, aku
merasa berdosa (sombong, egois) dan semakin merasa tidak mungkin untuk Tuhan
pakai.
Imanku
mengamini bahwa bukanlah suatu kebetulan aku bisa mengikuti RKN kemarin. Aku
bisa ikut bukan sekadar karena kebetulan lokasi retretnya dekat dan bahkan satu
kompleks dengan asrama tempatku tinggal di Yogyakarta. Aku bisa ikut bukan pula
karena gabut nggak ada kesibukan lain seperti ospek atau magang atau KKN. Aku
bahkan mengimani bahwa keikutsertaanku adalah bagian dari jawaban Tuhan atas
doa-doaku di bulan-bulan terakhir ini ketika aku merasa begitu jauh dari-Nya
dan tidak layak di hadapan-Nya. “Tuhan masih mau pakai aku nggak sih? Kalau iya
kenapa Tuhan biarkan aku seperti ini? Tolongin Fani dong,” kira-kira seperti
itulah isi doaku, yang tidak aku doakan dengan sikap yang benar, hanya teriakan
emosional di dalam hati.
Terimakasih
Tuhan, yang tidak menyerah dan tetap mencariku, menerima, dan mengampuniku.
Mungkin seperti itulah hal terpenting yang aku dapat dari RKN; Tuhan masih mau
memakaiku, panggilan-Nya masih sama, janji-janji-Nya masih berlaku karena aku
pun adalah anak Abraham. Luar biasa memang, seluar biasa itu memang Tuhan kita.
I’m beyond blessed and grateful.
Selanjutnya
adalah kisah-kisah lain di luar hal tersebut di atas. Yang paling seru untuk
dibahas sudah jelas adalah perihal pasangan hidup (PH). Sejak awal RKN, tanpa
kami (para peserta) meminta atau bagaimana, para staff Navigator sudah
membicarakan hal-hal yang ‘menjurus’ ke sana, “Nikmati retretnya, siapa tahu
menemukan yang mau didoakan untuk jadi pasangan,” ya kurang lebih seperti
itulah. Heol, tolong Om, ini retret
pertama yang aku berkomitmen buat nggak cari jodoh! Kenapa malah disarankan
LOL... dan ya mau bagaimana lagi, karena PH menjadi pokok bahasan yang walaupun
bukan utama tapi memang difavoritkan siapa saja (HAHA), aku pun jadi ikut terjerumus
wkwkwkw...
Entah
itu melihat-lihat apakah ada orang-orang lain yang terlibat ‘cinlok’? Mengagumi
pasangan-pasangan Navigator (yang keduanya alumni Nav, dipersatukan setelah
melalui proses saling mendoakan) sementara juga sibuk menasihati hati untuk
tidak jatuh karena aku ingin terlebih dahulu mendoakan kriteria PH-ku, dengan
hati yang murni bukan hati yang baper :”) I’m
done falling in love, God. Let me fall on You instead whilst praying for a good
husband until he come along saying he’d prayed for me.
(lanjut nulis sebulan lebih setelah RKN lol)
Well, till now still having a major struggle behaving my heart :((( dan... seperti yang aku takutkan, begitu aku 'keluar ke luar', kembali ke realita hidup sehari-hari...

0 comments:
Post a Comment