Monday, May 6, 2019

1/3 Akhir


Mei, 2019

"Tiba-tiba... hal yang sebelumnya begitu berharga menjadi jauh berjarak dan yang dulunya bukan apa-apa, menemukan jalan menjadi dekat bermakna."

Asrama, yang selalu aku banggakan dan sayangi, sekarang kerap membuatku merasa asing dan bertanya-tanya, dan ini bukan pertama kali... Aku kira mereka sudah paham dan mengerti, ternyata aku masih saja kebingungan, "Apa salah dan dosaku sayang?"

Unit Kerohanian Kristen UGM, yang dulunya aku begitu resisten terhadapnya, sampai-sampai tidak pernah mau terlibat di kepanitiaan atau apapun itu, sekarang mulai terasa seperti rumah yang hangat dan nyaman.

Semester 6 membuat banyak hal di kelas seolah harus lebih serius dan tegang. Perpisahan yang seharusnya masih 'nanti' sudah terasa dan bahkan terjadi saat ini. Dingin, asumtif, egois, dan individualis.




KKN hadir di waktu yang tepat. Syukurlah walau semula ngotot ingin KKN di Magelang atau Temanggung saja, eh malah mencemplungkan diri ke Banggai Kepulauan. Ke-random-an yang membawa berkat. Teman-teman baru yang baik, cerdas, solutif, inspiratif, menyenangkan, dan menuju semakin solid. Aku selalu senang menjadi penyeimbang.

Keseimbangan lain seperti,

Ada mata kuliah seminar yang membuat gila tapi ada sastra perjalanan yang mewaraskan...

Ada dosen seperti si tukang makan bayam tapi juga ada Bu Rini yang seimbang cantik paras dan hatinya...

Related image

Absurd, kala merasa telah mendewasa, tak sadar kita menjilat ludah sendiri; yang berujar akan terus menjaga kanak-kanak dalam pribadi. Bahwa persahabatan dan cinta adalah yang paling berharga. Uang, kesombongan, dan nikmat dunia lainnya adalah sia-sia. Terima kasih Tuhan (dan Pangeran Cilik).

Pikiran selalu bekerja berkali lipat lebih sibuk setelah banyak bertemu manusia lain. Quora dan rapat-rapat. Ruang-ruang bertemu ide-ide yang berseliweran. Belajar lagi dan lagi tentang empati dan peduli. Lebih baik mengalah daripada memenangkan emosi.

Sedikit lebih berani menantang adiksi. Menyadari candu itu telah mencuri demikian banyak damai dalam hati. Menggerogoti pilar-pilar percaya diri. Imposter syndrome menjadi-jadi. Harga diri terkikis ditelan bumi.

1/3 akhir masa kuliah. Langkah sudah begitu jauh menjelajah, hanya bisa berterimakasih pada Allah. Untuk segala takut dan ragu yang terus Ia buktikan salah. Semua timing yang ternyata selalu tepat, membuatku berani untuk percaya; KKN-magang-skripsi juga Ia pegang setiap prosesnya.

Dua hal terakhir: menjangkau jiwa-jiwa dan pasangan hidup. Tetaplah berdoa. 

Monday, April 29, 2019

[ Can't Unmiss You ]


Aku tidak sedang merindukanmu

Aku tidak sedang ingin kamu mengajak kita bertemu

Aku tidak sedang ingin mengharap namamu muncul di kotak pesanku

Aku tidak sedang melatih kekuatan hatiku

Aku tidak sedang merindukanmu

.
.
.

Aku sedang berusaha keras tidak menunggumu

Aku sedang berperang mati-matian untuk tidak memikirkanmu

Aku sedang berjuang menghapus namamu dari bagian memoriku

Aku sedang mencoba... meniadakanmu dari daftar doaku

Aku sedang berusaha keras tidak menunggumu

.
.
.

Lorong itu masih saja gelap setiap kali aku melihatnya

Tidak ada tanda-tanda seseorang akan datang membawa pelita

Lalu menjemputku dari terlalu banyak bermimpi

Menawarkan kenyataan dan realita yang lebih menarik

Tidak ada yang seperti itu, belum ada, masih jauh sekali

.
.
.

Photo by Steve Halama on Unsplash

Lalu apa sih gunanya kita sama-sama swipe right kalau akhirnya sama-sama diam?

Tinder oh tinder... bukan sesuatu yang harusnya dibawa ke hati karena cuma dimainkan dengan jari!


Sunday, April 28, 2019


Bagaimana sih caranya tidak sedih ketika akhirya seorang diri?

Biasa tertawa dan melakukan hal-hal aneh saat bersama orang lain... tersenyum dan melakukan kebaikan tapi

malam tiba dan bahkan terkadang belum tiba, waktu kesendirian itu tiba dan... sulit sekali untuk tidak memikirkan hal-hal negatif.

Photo by Annie Spratt on Unsplash
 
Berapa banyak orang yang sudah kamu tipu dengan berpura-pura baik hari ini?

Pada akhirnya mereka akan tahu seberapa buruknya kamu dan mereka akan membencimu...

Kamu tidak diharapkan ada, kehadiranmu tidak signifikan... you'll never feel belong because in fact, they just don't accept you 



 

Thursday, April 25, 2019

[ APOLOGY: On Not Being Friend-able ]



"Jadi mungkin miskin itu dosa ya?"

Berhenti bersikap seolah kamu yang paling menderita.

"Tapi... strata sosial itu ternyata memang ada ya?"

Iya, iya ada! Ketidaksetaraan itu ada, bahkan ada indeksnya! Disparitas itu bagian dari realita...

"Pasti selama ini keberadaanku mengganggu sekali ya?"

Sudahlah...

"Pasti mereka sudah banyak menahan diri untuk tidak membuatku merasa sangat berbeda ya?"

Iya, mereka sebaik itu...

"Lalu?"

Mungkin mereka lelah?

"Aku memang setidak seru itu ya?"

Entahlah...

"Sepertinya iya, makanya aku tidak pernah punya banyak teman."

Sudahlah...

"Iya kan? Aku banyak mengeluh, tidak bisa bercanda, tidak tahu cara bersenang-senang..."

Mengeluhmu itu rasional kok dan kamu melakukannya bukan karena tidak bisa bersyukur, hanya untuk melepas stres saja kan? Kemudian kamu bukannya tidak bisa bercanda, hanya saja kamu tertawa untuk hal-hal yang berbeda dengan mayoritas orang, begitu juga caramu bersenang-senang... kamu punya caramu sendiri dan, yah, kebetulan itu (lagi-lagi) tidak sama dengan mereka.

"Tapi sama saja kan? Itu berarti... aku memang tidak cocok dijadikan kawan."

...

"Aku egois kan? Harusnya aku lebih banyak berpura-pura bahagia dan memendam keluhanku. Harusnya aku mengalah dan mencoba menertawakan yang seisi dunia tertawakan... Bersenang-senang dengan cara orang-orang normal mencari kesenangan..."

Kamu mau hidup seperti itu hanya demi orang lain menyukaimu?

"..."

 Tidak, kan? 

 

"Maaf sudah banyak mengganggu...

maaf sudah banyak membatasi kebahagiaanmu...

Maaf karena terlalu aneh dan tidak sama.

Terima kasih sudah banyak berpura-pura...

terima kasih sudah pernah banyak memaklumiku,

terima kasih sudah mengajarkan tentang perpisahan.

Selamat tinggal

Semoga aku akan segera baik-baik saja karena aku tahu kalian baik-baik saja

Aku tahu banyak hal menyenangkan sudah terjadi tidak bersamaku dan itu pasti jauh lebih baik karena ketiadaanku, kerjaku memang hanya merusak good vibes...

Aku tahu duniamu tidak berputar di sekitarku dan bahkan mungkin tidak akan pernah saling terkait lagi, atau setidaknya tidak akan seberpengaruh itu lagi...

... Maaf karena aku memang seburuk itu. Maaf sudah banyak membuang waktumu. Maaf."

.
.
.

"What hurts the most is being so close, having so much to say and watching you walk away... never knowing what could have been... and not seeing that loving you is what I was trying to do"



Mengirim pesan di Line lalu berharap tak akan dijawab, rasanya ingin mematikan saja notifikasi.

Ada hari raya tapi tidak memperbaharui Instagram story.

Kotak DM Instagram menunjukkan sejumlah angka yang aku harap tiada.

Membiarkan ponsel kehabisan daya lalu meninggalkannya mati begitu saja.

Aku harap setahun yang lalu tidak kecopetan ponsel di dalam bus untuk kedua kali dalam hidup. Seandainya saja itu tidak terjadi, sekarang akan jadi waktu yang tepat untuk membeli yang baru. Alih-alih berkutat dengan ponsel berusia satu tahun yang sialnya terguyur terlalu banyak air hujan satu bulan yang lalu. Aku benci diri-sendiri, sungguh. Untuk ponsel yang tidak berfungsi seperti seharusnya padahal belum berumur panjang. Kenapa sih aku tidak mampu menjaga barang-barangku? Seolah punya banyak uang saja.

Saturday, April 20, 2019

Aku lupa sudah berapa kali berucap, "Kamu bakal baik-baik saja," dalam sehari ini, padahal ini baru jam 12 siang. Ketakutanku membuatku tidak bisa melakukan apa-apa dan semakin membenci diri-sendiri. Seandainya saja aku bisa mendiamkan rasa takut itu dan tetap melakukan apa yang harus dilakukan, aku akan lebih bahagia. 

Aku terus berpikir, "Mungkin aku harus mencoba curhat dengan psikiater," tapi kemudian sadar butuh banyak uang untuk itu dan sekarang saja aku sudah sangat tertekan memikirkan biaya KKN. Menyebalkan sekali perasaan tidak berguna ini. Pasti menyenangkan memiliki pola berpikir yang lebih sederhana atau malah tidak banyak berpikir sama sekali. 

Kamu tidak gila, hanya terlalu banyak berpikir. Kamu tidak depresi, hanya malas dan kurang beriman . Kamu tidak punya gangguan kecemasan, hanya tidak punya kontrol diri. Kamu sehat-sehat saja, baik fisik maupun psikismu. Berhentilah mencari-cari alasan untuk ketidak-kompeten-an dan ketidak-profesional-anmu. Tidak ada alasan khusus, kamu hanya kurang berusaha. 

.
.
.


.
.
.

Aku berharap tahu alasan orang-orang ingin berjuang untuk hidup mereka. Bagaimana bisa? Apa yang mendorong mereka melakukannya? Apakah mereka tidak punya pemikiran tentang kesia-siaan? Apakah mereka tidak punya trauma kegagalan dan penolakan? Apakah mereka selalu berhasil, merasa baik tentang dirinya sendiri, dan yakin akan diterima orang lain? Apakah usaha belum pernah mengkhianati mereka dengan hasil yang buruk? Mengapa mereka begitu yakin? Mengapa begitu cerah dan optimis seolah-olah semesta memang selalu berkonspirasi membantu padahal tidak kan? Tolong jelaskan padaku semuanya... 

Karena aku tidak memahaminya. Bagiku semua percuma dan sia-sia saja. Untuk apa berusaha keras? Tidak ada yang menjamin kamu akan sukses. Untuk apa berjuang mati-matian? Seringkali orang-orang hanya beruntung karena serangkaian masa lalu dan latar belakang yang sudah bagus dari sononya. Buat apa berharap, optimis, dan mempersiapkan masa depan? Kan tidak ada kepastian semua bakal berjalan sesuai dengan keinginan kita jadi lebih baik hidup tanpa mengharapkan apa-apa. Putus asa itu bukan kesalahan, itu kondisi; bahwa kita tidak punya kuasa atas apa yang terjadi, maka tidak ada gunanya melakukan apapun. Bukankah begitu? 





Saturday, April 13, 2019

Bohong Bohong Bohong Bohong Itu Dosa

  
Abstrak

Ternyata saya masih sama: merasa sangat tidak nyaman ketika berbohong. Syukurlah, setidaknya saya masih boleh berucap bangga, "Saya sering sombong sih tapi saya jujur."

Jadi marilah kita akhiri skenario kebohongan ini: Fani masih jomblo guys, setelah hampir 21 tahun!!! Fani belum ketemu jodoh, masih disayang-sayang sama Tuhan Yesus seorang 😂 Snapgram yang menggambarkan seolah-olah Fani pacaran itu hanyalah H A L U !

Maka dengan ini saya nyatakan bahwa Stephanie Gracia Suryani...


dan beberapa teman terkasih saya terverifikasi tertipu!✅

LATAR BELAKANG
 
Sebagai kaum tuna asmara yang hatinya terlunta-lunta sekian lamanya, sering timbul rasa iri-dengki-benci-tapi-rindu terhadap para manusia penyandang status taken. Bagaimana tidak? Kemesraan diumbar sana-sini entah melalui media sosial atau dengan seenaknya berlalu lalang di sekitar saya. Kenapa sih mereka ini sungguh tidak peka? Namun yang barusan saya ketik itu sesungguhnya bukan latar belakang utama skenario ini dimulai. Inti dari inti, core of the core dari jomblo yang lebih dari jomblo lainnya ini melakukan penipuan publik tak lain ialah: ISENG BELAKA :") 

Selasa, 9 April 2019 . Siang hari di Fisipmart bersama kawan belajar bareng untuk UTS sore.

🙆 : Saya
😌 : Teman saya
🙆 : (membaca beberapa patah kata dari materi UTS tetapi kemalasan melanda dengan dahsyatnya kemudian tiba-tiba muncullah ide random di dalam otak) 
"Was jadi aku mau upload snapgram seolah-olah punya pacar gitu ah, iseng. Jadi tuh sempet ada tren gitu di kalangan Kpopers."
😌 : "Eh mana lihat-lihat!"
🙆 : (Menunjukkan 'bahan' yang saya temukan di Pinterest) 
"Terus nanti aku kasih caption 'akhirnya ada yang nemenin revisian' sama kasih lokasi itu biar meyakinkan."
😌 : "Aku juga mau dong..." 
🙆 : "Kenapa ya di kala dua jam menuju UTS kita malah begini..."
//// begitulah toxic nya pergaulan saya ha ha ha ha 

RUMUSAN MASALAH

Masalahnya adalah kenapa sih saya kurang kerjaan banget? :") 



TUJUAN

Ingin menipu

Enggak lho, sungguh sesungguhnya tidak ada niatan membohongi siapapun. Saya malah berpikiran sangat positif, "Ah teman-teman saya kan cerdas dan berbudaya mana mungkin ketipu. Mereka palingan udah ngerti betapa halunya saya." 
Terus tujuannya apa? Nggak ada, cuma iseng, murni iseng... dan kalau ngomongin nipu: Come on, we shouldn't trust Instagram that much guys~ 




Tidak ada tinjauan pustaka dan landasan teori, lompat ke... 

METODOLOGI

1. Cari foto di Pinterest (atau manapun seperti Google/Tumblr/...)

Pro tips: pakai kata kunci "boyfriend material EXO/BTS/NCT/any boygroup"; "Kpop boyfriend material"; "Kpop boyfriend snapchat", dan sejenisnya. Nggak susah mendapatkan gambar yang diinginkan karena hal seperti ini memang banyak dilakukan para kaum seperhaluan Kpopers. 

Contoh hasil pencarian bahan kehaluan


2. Edat edit edut edet edot

Tenang, tidak perlu skill mumpuni dalam bidang editing. Cukup dengan aplikasi sederhana atau bahkan tanpa aplikasi tambahan, cukup langsung di Snapgram ae sudah bisyaaaa

3. Upload

4. Tunggu reaksi netijeng :")

Apa sih ya abis Metodologi? Ya pokoknya ya guys INI HASIL KESIENGANNYA:

Ini Snapgram pertama (1 reaksi dari Kakak asrama)

Snapgram ke-2 ada satu reaksi juga dari sahabat sejak SMA


ke-3 juga 1 reaksi (ini temenku yang super cerdas pun kemakan)










Snapgram ke-4 yang paling rame, mulai dari temen SMA, temen kampus, sampe temen... Tinder lol
Kamu sendiri bagaimana? Apakah sempat  tertypu? 😅😅😅

Lying Never Feels Good and Hopefully Will NEVER Feel Good

lagipula kata Friedrich Nietzsche,
“I'm not upset that you lied to me, I'm upset that from now on I can't believe you.” 
Saya selaku manusia kebanyakan berpikir sedikit bertindak dihantui oleh rasa bersalah (selain rasa jijik dengan caption cheesy yang saya buat sendiri) yang cukup dalam oleh aksi kebohongan keisengan saya ini. Memang sih saya hanya iseng dan banyak teman saya yang cukup tahu bahwa snapgram-snapgram tersebut hanyalah halusinasi tetapi tetap saja, saya dihinggapi kekhawatiran kalau-kalau keisengan saya ini telah menipu cukup banyak orang dan akhirnya mereka jadi tidak bisa percaya lagi pada saya. Mungkin memang benar adanya, 



dan tidak ada yang namanya white lies, berbohong untuk kebaikan. Bohong ya bohong, no excuses. Masih beracuan pada kata-kata Nietzsche di atas, yang paling dirugikan dari kebohongan sebenarnya bukan orang yang dibohongi tetapi orang yang mengucapkan kebohongan itu sendiri karena jika kebenaran terungkap, akan sulit baginya untuk mendapatkan lagi kepercayaan orang lain. Iya sih, Nietzsche juga pernah bilang kalau "lie is a condition of life" which means lying is somehow inevitable for us hoomans but what I want to say is: we at least shouldn't choose someone whose political campaigns are full of lies, false accusations, and defamations! 

It's crazy how many lies they've spread all over this country berflower T_T Ora, I know you guys smart people could differentiate mana yang ngibul/hoax mana yang fakta TAPI
  1. Banyak eh masyarakat yang masih menelan informasi mentah-mentah tanpa disaring dulu :( yang gampaaaaaaaaaaang banget percaya apapun yang dia denger/baca terus abis itu broadcast ke mana-mana sehingga makin banyak yang tertypu. Sementara ketika ada berita klarifikasi belum tentu sampai ke mereka-mereka ini T_T 
  2. Some other people choose to believe the lie :) because truth, for them, is what they choose to believe... Kalau aku yakinnya begini ya ini kebenaran! 
Ya udah deh kenapa sih malah jadi kampanye Fan :") *karena ini hari terakhir boleh kampanye woi